Home Renungan
HANDLE WITH CARE PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Friday, 22 November 2013 10:29

Iya Jac.. makasih ya.”

SMS ini saya terima dari seorang teman yang baru saja kehilangan adiknya yang meninggal. Saya mengirim SMS pendek kepadanya dan mendorongnya untuk tetap kuat menghadapi kehilangan saudaranya. Setelah membaca SMS balasan itu, justru saya yang terharu dan pengen nangis. Yah... saya tahu betul artinya kehilangan. Karena saya tahu betul artinya kehilangan dan sudah pernah mengalaminya makanya saya dapat ikut merasakan emosi seorang teman yang juga sedang mengalami kehilangan.

Kadang-kadang, kita nggak butuh kata-kata yang panjang dan bagus ala motivator untuk merasakan arti dan kehadiran seorang teman. Kita hanya butuh 2-3 kata pendek sederhana yang bisa sangat menguatkan, terutama bagi teman yang sangat membutuhkan kepedulian dan kehadiran kita dalam masa-masa sulit. Kehadiran kita tak berarti harus ketemu muka. Zaman sekarang teknologi turut menyumbangkan efek keakraban yang punya pengaruh sangat luar biasa. Orang-orang tak lagi merasa sendiri di luar sana.

Kalau saya pindah ke sebuah tempat baru, katakanlah kota baru, dan saya belum memiliki banyak teman, saya tentu merindukan teman-teman saya di kota sebelumnya yang saya tinggalkan. Apalagi kalau teman-teman di tempat lama jauh lebih peduli. Saya bisa rindu berat dengan mereka. Toh, setiap orang punya kehidupan sendiri. Tapi tak berarti bahwa kehidupan sendiri tidak membutuhkan orang lain.

Kita memerlukan teman. Teman untuk merasakan senang bersama, sedih bersama. Kadang orang menikah pun jadi kehilangan teman yang dia butuhkan. Pasangannya belum tentu teman terbaiknya. Manusia itu mahkluk sosial. Manusia butuh untuk berbagi. Itu kebutuhan yang lebih kuat dari sekadar makan minum. Orang bisa bertahan nggak makan atau minum, nggak ganti baju, atau nggak punya rumah tapi orang merasa tidak berarti lagi kalau dia tidak dipedulikan, tidak diajak bicara. Pendek kata, diabaikan. Dianggap mahkluk “halus” yang hanya melayang-layang di sekitarnya. Tidak bisa dilihat dan disentuh. Lalu apa artinya hidup?

Saya punya seorang teman yang super duper sibuk. Dia sudah berkeluarga. Dia seorang pria yang serius dan cerdas dalam kerjaan dan pemikiran. Dia duduk di jajaran tinggi di perusahaan tempat dia bekerja. Dan terlalu sering rapat, yang membuat dia bosan setengah mati.

Walau dia pria yang dari luar tampak amat cuek, tapi hanya dialah, satu-satunya teman saya, yang super duper sibuk itu, yang sangat menghargai pertemanan kami. Setiap SMS pendek dari saya, bahkan SMS yang tak penting sekadar menanyakan hal remeh-temeh, selalu dia balas saat itu juga. Saya selalu merindukannya kemana pun saya pergi. Kami memiliki pertemanan yang positif. Saya selalu merasa dikuatkan ketika dia meng-SMS saya. Se-nggak penting apapun isi SMS-nya, saya merasa dia selalu ada untuk saya. Mungkin kalau suatu hari Tuhan memanggilnya, sayalah orang yang akan paling berderai air mata.

 

Setiap kita butuh seseorang yang dapat diajak bicara. Tapi, akan sangat tidak adil, kalau kita sendiri, tidak bisa menjadi seseorang yang dapat diajak bicara itu. If you need a friend, handle with care. You will never know, when you need him/her. (Jaclyn)

 
Natal PDF Print E-mail
Written by dr. Hansen   
Thursday, 06 December 2012 12:47

Pernahkah anda diundang ke acara ulang tahun? Pernahkan teman-teman atau saudara-saudara anda merayakan hari ulang tahun untuk anda?

Tentunya anda akan merasa senang untuk mengadiri pesta perayaan tersebut.

Tapi pernahkah anda bayangkan bagaimana jadinya bila pada saat anda datang ke pesta perayaan ulang tahun untuk anda tersebut, ternyata tidak ada satu orangpun yang menyapa anda, mereka tidak menyadari kehadiran anda bahkan mereka tertawa gembira tanpa menghiraukan anda sama sekali?

Renungkanlah dalam suasana Natal saat ini, di dalam kemeriahan perayaan Natal di toko-toko, mal-mal, berbagai acara di televisi dan radio, film dan dongeng yang bercerita tentang keajaiban Natal, siapakah tokoh yang muncul dalam semua acara tersebut? Siapakah yang menjadi pusat perhatian dalam acara-acara tersebut?

Apakah Dia tidak akan bersedih dengan kejadian tersebut yang berulang terus selama bertahun tahun? Apakah kita juga turut membuat Dia bersedih dengan perayaan yang kita buat juga?

Cobalah renungkan bila pertanyaan ini datang kepada anda dan teman teman anda, apakah arti Natal itu? Tentunya akan banyak jawaban yang beragam seperti: "Perayaan dan pesta yang meriah", "Baju baru yang mewah", "Saat romantis dengan pacar", "kado Natal dan tukar kado", "Saat berbagi kebahagiaan", "saat untuk kembali berkumpul dengan keluarga", "Saat untuk peduli dan berbagi dengan sesama"

Memang sebagian memberikan jawaban yang baik, tapi apakah itu arti Natal yang sesungguhnya?

Memang Tuhan Yesus tidak pernah meminta kita untuk mengingat atau merayakan kelahirannya, Dia hanya minta kita mengenang kematian dan kebangkitanNya, karena itulah tujuanNya datang ke dunia. Tentunya kita tetap harus menyadari makna Natal yang sesungguhnya, bukan pesta pora, bukan perayaan yang megah dan meriah. Dia hanya lahir di kandang domba yang bersahaja, Allah yang Maha Kuasa merendahkan diri bukan hanya sebagai manusia tetapi sebagai manusia yang sangat sederhana dengan maksud membawa kebahagiaan, memberikan keselamatan bagi seluruh manusia yang berdosa, mendamaikan manusia dengan Allah.

Sudahkah anda mengalami Natal secara pribadi? Menyadari makna Natal bagi hidup anda?

Tuhan Yesus ingin lahir di hati anda, dalam seluruh kehidupan anda, dan menjadikan Dia sebagai Tuhan dan Juru Selamat, menghapus dosa anda dan mendamaikan anda dengan Allah.

Semoga kita bisa membagikan makna Natal yang sesungguhnya kepada semua orang.

 
BAGAIMANA REAKSI KITA UNTUK DOA YANG BELUM DIJAWAB? PDF Print E-mail
Written by sariwati   
Wednesday, 05 December 2012 10:39

Kol 4 : 2 “Bertekunlah dalam doa dan dalam pada itu berjaga-jagalah sambil mengucap syukur.”

Anakku sudah memasuki usia remaja sekarang. Dan ternyata memang benar seperti kata banyak orang, bahwa mengasuh anak usia remaja tidak semudah mengasuh mereka dulu. Kemauannya makin banyak, harapannya juga makin banyak, dan kita harus semakin pandai berkomunikasi dengan mereka.

Hari-hari ini anakku yang besar sedang menginginkan untuk membeli sepatu bermerek. Dan namanya bermerek, tentu harganya sangat berbeda. Saya bukan tipe orang yang suka membeli barang bermerek, jadi melihat harganya tentu membuat saya melonjak kaget. Jadi, saya memang pernah berjanji akan membelikannya jika ada potongan harga yang lumayan.

Bukan kebetulan kalau ternyata beberapa waktu yang lalu ada sebuah iklan di internet yang menawarkan sepatu tersebut dengan potongan harga yang sangat lumayan. Lebih dari setengahnya...waaahh saya pikir kalau harganya sekian sih bolehlah. Maka saya berjanji pada anak saya bahwa saya akan membelikannya kali ini. Dan tentu saja dia merasa senang sekali.

Tapi apa mau dikata, kesibukan saya begitu banyak sehingga belum lagi sempat melakukan pembelian itu. Bukan saya tidak mau membelikannya, tapi memang benar-benar belum punya waktu untuk membuka internet dan browsing untuk hal tersebut. Tentunya dibutuhkan waktu juga untuk melakukannya. Alhasil, anakku itu sekarang sedang 'ngambek' karena keinginannya belum terpenuhi.

Pagi ini, ketika membangunkan dia untuk pergi ke sekolah, tampak sekali kalau ia ingin menunjukkan protesnya dan sedikit uring-uringan gara-gara hal tersebut. Bukan hanya itu, kentara sekali kalau dia malah rela untuk unjuk rasa dengan hampir tidak mau ke sekolah karena kekecewaannya, walaupun akhirnya dia tetap pergi juga. Wiih...hatiku sedih melihatnya.

Di dalam kepalaku langsung berkelebatan begitu banyak hal yang sudah aku lakukan buat dia, dan sama sekali bukan sedikit. Hampir semua yang dia harapkan dan dia perlukan akan kami upayakan kalau itu memang baik buat dia. Tapi kok bisa ya, ketika yang satu ini belum terpenuhi membuat dia berubah seperti ini. Apa dia lupa dengan segala kebaikan yang pernah kami taruh sebelumnya?

Dan begitu pikiranku yang terakhir ini mampir di kepalaku, lansung sepertinya Tuhan tersenyum dan mengingatkan aku akan banyak hal serupa yang sering kita lakukan juga dalam hubungan kita dengan Tuhan.

Seringkali ketika kita menunggu jawaban atas doa kita, bukannya kita mulai bersyukur dengan semua yang sudah Tuhan jawab, malahan kita mulai marah dengan doa yang belum dijawab kali ini. Sepertinya segala hal yang baik yang sebenarnya sudah kita dapatkan itu jadi tidak ada artinya lagi hanya gara-gara doa yang sekarang belum kita lihat hasilnya.

Dan pagi ini saya jadi sedikit mengerti tentang kira-kira akan seperti apa perasaan Tuhan menghadapi hal tersebut. Dia pasti juga akan tersenyum sedih pada kita. Bukankah Dia sudah memberikan jauh lebih banyak dari yang seharusnya? Tapi mengapa kok bisa-bisanya kita merasa kecewa hanya karena doa kita yang sekarang belum terlihat hasilnya?

Belajar dari peristiwa ini, aku meminta ampun pada Tuhan dan akan belajar untuk mengubah pola pikirku. Aku mau tetap mengucap syukur untuk semuanya, baik yang sudah dijawab, maupun yang belum terjawab. Bagaimana dengan anda? (SG)

 

 
JANGAN TERBURU-BURU MENILAI PDF Print E-mail
Written by sariwati   
Tuesday, 25 September 2012 17:07

Lukas 6 : 37 “Janganlah kamu menghakimi, maka kamupun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamupun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni.”

Di dalam perjalanan hidup kita dan dalam membangun relasi dengan banyak orang, harus kita akui bahwa kita akan sering menemukan hambatan yang tidak menyenangkan. Khususnya karena setiap orang mempunyai kepentingannya sendiri-sendiri dan setiap orang juga akan merasa bahwa kepentingan mereka jauh lebih penting dari yang lainnya.

Tapi saya percaya bahwa tidak pernah ada diantara kita yang merencanakan untuk menjadi sakit hati, tersinggung, atau menjadi marah sekalipun. Hal-hal tersebut terjadi lebih karena suatu hal yang tidak disengaja, namun jika dibiarkan akan menjadi berkelanjutan dan jika tidak pernah diselesaikan maka akan menjadi siklus yang sangat panjang saling balas membalas dan tidak ada penyelesaiannya.

Saya sendiri pernah mengalami suatu peristiwa yang sama sekali tidak menyenangkan. Kebiasaan saya untuk bercanda dan berbuat iseng ternyata hari itu terjadi pada waktu yang kurang tepat.

Teman saya yang biasanya juga senang bercanda dan kami sering tertawa-tawa bersama, ternyata hari itu sedang menghadapi masalah yang saya sama sekali tidak mengetahuinya.

Ketika bertemu dengannya seperti biasanya saya menyapanya dengan panggilan iseng kami, namun entah kenapa hari itu wajahnya terlihat tidak menyenangkan. Saya jelas segera menghentikan keisengan hari itu karena secara reflek saya bisa merasakan ketidak sukaannya. Namun, yang sangat menyedihkan adalah gara-gara hari itu, hubungan kami tidak pernah kembali menjadi seperti dulu lagi.

Saya tidak pernah mengetahui sebab yang sebenarnya mengapa sikapnya menjadi begitu. Namun yang pasti, peristiwa itu memberikan pelajaran besar buat saya untuk tidak gegabah dalam menghadapi orang-orang di sekitar kita, meskipun kita merasa betapa dekatnya hubungan kita selama ini. Banyak hal bisa tiba-tiba berubah.

Namun setelah sekian waktu berlalu, akhirnya saya mencoba menyelesaikannya dan memberanikan diri membuka kembali masalah itu. Yang lucunya, ternyata hal yang sama juga terjadi dari dirinya. Dia merasa bahwa saya banyak menghindari dia dan tidak lagi seperti dulu yang begitu terbuka terhadap dia.

Akhirnya kami tertawa bersama, mentertawakan kebodohan kami. Memang ada kalanya kita memiliki masalah, tapi belum tentu hal itu berhubungan dengan kita. Tapi tidak sengaja hari itu jadi mengenai diri kita, padahal tidak begitu masalah sebenarnya.

Jadi, jangan terburu-buru menghakimi suatu peristiwa. Belajarlah bijak dalam menghadapi suatu hal, dan jangan terlalu sensitif dan reaktif. Sejalan dengan waktu, beranilah untuk terbuka dan menyelesaikannya jika memungkinkan. Siapa tahu kita akhirnya menemukan dimana letak kebuntuan sebuah hubungan selama ini.

Saya percaya Tuhan akan selalu menolong dan memberikan kepekaan yang tepat untuk hal ini. Mintalah hikmat dan Dia pasti akan menolong kita, asalkan kita mau rendah hati dan rela untuk dibentuk. God bless you. (SG)

 

 
MANA YANG KAUPILIH? PDF Print E-mail
Written by sariwati   
Monday, 06 August 2012 13:08

Mazmur 84:11 Sebab lebih baik satu hari di pelataran-Mu dari pada seribu hari di tempat lain; lebih baik berdiri di ambang pintu rumah Allahku dari pada diam di kemah-kemah orang fasik.

 

 

Jika aku diminta untuk memilih apakah aku akan lebih suka untuk membeli pakaian atau membeli buku, maka aku akan dengan segera mengatakan membeli buku. Dan jika aku disuruh memilih apakah aku akan lebih suka memasak atau menikmati makanan siap saji, maka aku akan lebih memilih menikmati makanan siap saji. Begitu juga jika aku diminta untuk memiliih apakah aku akan lebih suka untuk menghabiskan waktu di rumah atau lebih suka melakukan banyak pelayanan, maka aku akan lebih memilih untuk melakukan banyak pelayanan.

Namun bukan artinya aku tidak suka membeli pakaian, dan juga bukannya tidak suka memasak, dan juga bukannya aku tidak suka untuk menghabiskan waktu di rumah. Tapi di dalam hidupku aku mempunyai prioritas lain yang entah muncul dari mana, namun ya itulah aku.

Begitu juga jika aku ditanya, tempat apa yang paling aku nikmati? Maka aku akan menjawab : gereja. Aku sangat suka berada di gereja, di rumah Tuhan. Aku suka dengan segala sesuatu yang berbau gereja. Kebaktian, kotbah, pengajaran, pelayanan, pujian dan penyembahan..semuanya aku suka. Aku suka sekali!!!

Dan entah mengapa, jika ada topik pembicaraan yang paling menarik bagiku, maka itu adalah topik mengenai firman Tuhan dan pengajaranNya. Menyenangkan sekali membahas firman Tuhan itu. Selalu ada yang baru dan selalu ada yang bisa membangun kehidupanku. Aku sendiri suka sekali membagikan apa yang aku dapat dari firman Tuhan itu bagi banyak orang. Aku suka sekali firman Tuhan...(please...jangan memandang saya dengan aneh. Tapi aku memang suka.)

Jika ada yang bertanya, lagu apa lagu favoritku, maka aku akan menjawab lagu-lagu penyembahan bagi Tuhan. Itulah favoritku. Ada suatu atmosfir yang berbeda ketika aku menyanyikan lagu-lagu pujian dan penyembahan bagi Tuhan. Terasa seperti dibawa ke satu suasana yang benar-benar lain.

Dan jika ada yang menanyakan kegiatan apa yang paling aku suka, maka aku akan menjawab ketika aku melakukan misi dan pelayanan bagi Tuhan. Itulah saat-saat dimana aku merasa benar-benar 'hidup' dan bersemangat. Aku suka melakukannya bagi Tuhan.

Terkadang aku sendiri merasa aneh dan bingung, namun ya itulah kenyataannya. Berjalan bersama dengan Tuhan dan hidup bersamaNya benar-benar adalah anugerah terbesar yang aku punya.

Melihat hal ini aku teringat Daud. Aku benar-benar tidak merasa heran ketika dia menyatakan bahwa lebih baik satu hari di pelataran Tuhan daripada seribu hari di tempat lain. Ia pasti bisa merasakan begitu besar perbedaannya di kedua tempat itu. Dan memang demikianlah keadaannya. Jika engkau belum bisa memahami yang kutuliskan hari ini, aku menganjurkan engkau mulai mencobanya. Dan aku yakin engkau akan punya pendapat yang sama denganku. Dan pasti bisa mengatakan hal yang sama bahwa Daud memang benar dalam hal ini.  Amin. (SG)

 

 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>

Page 1 of 40
Designed by vonfio.de