Home Artikel Rohani Column By Sariwati YESUS YANG INGIN KUKENAL
YESUS YANG INGIN KUKENAL PDF Print E-mail
Written by sariwati   
Thursday, 10 May 2012 17:07

Yehezkiel 36:26 Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat.

Kenapa ya...kenapa yaa....hatiku rasanya gelisah sekali hari-hari ini. Tidak seperti biasanya. Duduk salah, berbaring salah, berjalan apa lagi. Biasanya juga beginilah kegiatanku, tapi hari ini rasanya berbeda. Padahal setiap hari pekerjaanku  memang cuma berbaring, karena sudah dua belas tahun ini aku sulit berjalan kemana-mana. Yang bisa kulakukan hanya pekerjaan-pekerjaan ringan yang tidak membuatku harus meninggalkan tempat tidurku ini. Sudah begitu lamanya kualami ini, sehingga membuatku terbiasa dengan posisiku ini.

Jujur saja, dulu aku punya banyak uang dan tabungan. Tapi sekarang, semua itu sudah tidak ada sisanya lagi. Padahal itu adalah hasil kerjaku selama bertahun-tahun. Aku begitu berhasil dulu. Dan rasanya itu sudah lama sekali, jauh sebelum aku mengalami semua ini. Entah apa penyebabnya, tapi sejak aku mengalami menstruasiku bulan itu, pendarahanku tidak berhenti. Terus mengalir tanpa bisa dihentikan.

Aku sangat bingung dengan apa yang kualami ini, tapi aku benar-benar tidak tahu apa yang harus kulakukan. Yang pasti, aku berusaha untuk mengobatinya. Berbagai tabib sudah aku coba, bahkan sampai ke mana-mana pun aku lakukan. Berapapun harganya, aku bersedia mengeluarkannya, yang penting aku sembuh. Bahkan sampai akhirnya kusadari bahwa seluruh tabunganku sudah habis. Aku sudah tidak punya lagi apapun yang berharga. Seluruh keluargaku sudah menyerah dan mengatakan tidak sanggup lagi membantuku, karena sepertinya penderitaanku ini seperti tiada akhirnya. Aku mengerti, sungguh..aku tidak menyalahkan mereka semua. Ini bukan penderitaan mereka, tapi penderitaanku, jadi ya memang seharusnya aku yang menanggungnya.

Setiap hari, yang bisa kulakukan hanyalah berdoa dan memohon kebaikan Tuhan. Aku merasa yakin kalau Dia sanggup mendengar doaku. Dia mengasihiku, dan Dia takkan meninggalkanku dalam keadaan seperti ini seumur hidupku. Harapan itu masih tetap ada, aku yakin sekali tentang hal itu. Mungkin orang lain tidak tahu dan tidak bisa mendengar, tapi aku yakin Tuhan bisa. Setiap hari aku berdoa. Sungguh! Aku berdoa dengan sungguh-sungguh.

Bukan hanya di pagi dan malam hari, tapi setiap ada waktu aku akan berseru kepada Tuhan, Allahku. Aku percaya kalau Dia bisa mendengarku dengan sangat baik, karena Dia adalah Allah yang hidup. Aku percaya itu.  Meskipun begini keadaanku, justru pencarianku terhadap pribadi itu semakin kuat, karena aku yakin betul Cuma Dia yang bisa menolongku sekarang. Hanya saja aku tidak pernah bisa mengerti bagaimana caraNya datang membantuku.

Sampai satu hari,  beberapa bulan belakangan ini, ada satu kabar yang luar biasa. Kabar tentang kehadiran satu orang yang begitu menarik perhatian banyak orang. Sepertinya Dia bukan orang biasa, karena kedengarannya kemanapun Ia pergi, maka setiap orang akan merasa begitu bersukacita. Belum pernah dalam sejarah manapun terjadi yang seperti ini. Bahkan konon, setiap orang dari desa manapun akan selalu berbondong-bondong mengikuti Dia kemanapun. Tanpa merasa lelah dan jenuh, mereka akan mendengarkan setiap perkataanNya. Wow, apakah orang ini akan menjadi jawaban bagiku? Entahlah, aku tidak mengerti. Tapi yang pasti, ada sesuatu yang bergetar di dalam hatiku jika aku membayangkan perjumpaan dengan Dia.

Apalagi begitu santernya orang-orang mengatakan kalau Dia itu penuh dengan kasih dan mukjizat. Benarkah begitu? Kalau benar, maka Dialah orang yang dikirimkan Allah untuk menjadi penolongku. Aku mau bertemu denganNya. Meskipun pasti sulit sekali untuk mendekatiNya, tapi aku akan terus mencoba.

Aku tidak akan mengganggunya. Aku hanya ingin menjamah jubahNya, dan itu lebih dari cukup. Kalau Dia begitu penuh dengan kuasa, maka jubahNya pun akan memberikan jawaban itu bagiku. Aku tidak mau mengganggu perjalananNya. Baiklah, Aku akan mempersiapkan diriku, sehingga kapan saja Dia lewat di depan rumahku, aku akan segera beranjak dan menuju ke sana.

Huhhhh...beranjak dan menuju ke sana? Bisakah aku melakukannya ya? Sudah begitu lama aku berbaring di sini. Bahkan aku sudah tidak pernah membayangkan bagaimana rasanya meninggalkan ranjang tipisku itu. Mampukan aku?

Kasur tipis itu sama sekali bukan tempat yang nyaman. Bagian tengahnya bahkan sudah hampir tidak terasa apa-apa. Tapi saking lamanya aku berada di sana, sudah tidak terasa lagi sebagai beban. Aku menerima keadaan ini dalam sakitku yang berkepanjangan. Sampai hari ini, aku belum pernah berpikir akan meninggalkan dan beranjak dari kasurku itu.

Tapi YESUS!! Nama itu memberikanku gairah yang baru. Padahal aku belum pernah mengenalNya. Aku hanya mendengar apa kata orang. Kesaksian teman-temanku yang pernah bertemu dan mendengarkan Dia sungguh-sungguh membangkitkan semangatku yang pudar. Di dunia ini masih ada kasih yang begitu sempurna ya? Wow..aku pikir itu cuma ilusi. Tapi itu kenyataan. Dan sekarang, ketika aku mendengar bahwa Yesus ini akan mampir di dekat daerahku, berita ini sungguh-sungguh membuatku ingin segera berlari menyambutNya.

Bayangkan saja, baru mendengar dan memikirkanNya saja sudah membangkitkan semangat hidupku. Hatiku bergelora setiap membayangkan pertemuanku dengan Dia. Berdetak kencang sambil mengira-ngira, apa yang akan terjadi setelah ini. Apakah Dia akan memperhatikanku? Apakah Dia akan berhenti lalu melihat keadaanku? Atau sepertinya malahan Dia akan marah dan berpaling dariku, sama seperti orang-orang di sekitarku yang sering menghina dan mengejek keadaanku. Aaaahhh...biarlah..apapun resikonya. Aku mau mendekati Dia dan menjamahNya. Toh aku sudah biasa dicampakkan sebelumnya. Sekali lagi kalau aku harus mengalaminya apa bedanya? Aku akan tetap maju dan mencari Dia.

Hmmm...

Dan hari demi hari berlalu, aku terus menanti-nanti kapan waktu itu tiba. Mengapa tidak kunjung hadir ya? Lambat sekali detik detik itu berjalan. Tapi aku harus bersabar. Dua belas tahun sudah , toh aku mampu melewatinya. Masakan beberapa hari lagi saja aku tidak bisa melakukannya? Aku benar-benar berusaha menguatkan hatiku untuk menghadapi ini.

“YESUS!!! YESUS!!!” seruan-seruan keras sekali memanggil namaNya di kejauhan. Nah!!! Itu Dia!! Akhirnya, Dia hadir juga. Dia di sini. Bagaimana sekarang? Apa yang harus kulakukan ya? Aduuh..aku harus bergegas, atau aku bisa terlambat. Aduh, apakah aku cukup layak untuk hadir di dekatNya? Aku mendesah perlahan. Meskipun aku sudah berusaha mempersiapkan diri dari  jauh-jauh hari, tapi tetap saja rasanya aku benar-benar tidak layak ada di hadapanNya. Tapi ya, mau apa lagi? Aku harus melakukannya. Now or never!!!

Akhirnya aku gulingkan badanku dari ranjang tipisku itu. Buk!! Aku terantuk ke lantai. Tapi aku tidak perduli dengan rasa sakitnya. Yang ada di pikiranku sekarang, bagaimana aku harus bertemu Yesus. Yang lainnya aku tidak mau pikirkan sekarang. Dan akupun terus menggusur badanku yang sudah tinggal kulit dan tulang ini untuk terus beranjak. Sulit sekali...tidak ada yang membantuku. Tapi entah kekuatan dari mana, toh yang aku ingat adalah bagaimana aku terus bergeser maju perlahan namun pasti menuju dunia luar.

Wooowww..sinar matahari!! Begitu terang menyorot, seperti lampu panggung menyoroti sang bintang, aku bisa melihat Dia, Yesus yang ingin kukenal itu. Ya...Dia memang berbeda. Matanya begitu lembut memandang setiap orang. Ooohh rasanya ingin aku berteriak memanggil namaNya..tapi lidahku begitu kelu. Aku merasa tidak layak. Tapi aku sudah di sini..begitu dekat dengan Dia, sang bintang itu.

Sementara orang-orang semakin padat menyemut memenuhi jalanan, membuatku makin sulit untuk mendekati Dia. Dan..ouch...ada yang menendangku. Ingin aku memaki mereka, tapi sudahlah. Tidak ada waktu untuk itu. Aku punya janji meeting yang penting. Aku sudah berjanji pada diriku untuk bertemu dengan sang bintang ini. Dia satu-satunya tujuanku saat ini.

Dan setelah melewati berbagai rintangan dan kesulitan yang tak ada artinya dibandingkan tujuanku, akhirnya aku sampai pada titik itu. Spot yang membuatku bisa menjangkauNya. Hanya dengan sedikit menjulurkan tangan, akhirnya..aku bisa menjamah jumbai jubah orang ini. Aku pun menangis terharu saat menjamahNya. Meskipun ada rasa tak layak, tapi toh aku tetap menggerakkan tanganku untuk menggapai jubah itu. Keyakinanku semakin bertambah  bahwa inilah jawaban yang kuperlu. Sambil terus menangis haru aku menjamahNya. Ada damai yang begitu besar menyeruak diriku. Dan aku merasakan bahwa pendarahanku itu berhenti.  Tapi...

“Siapa yang menjamah jubahKu?”....seketika itu juga dunia rasanya seakan mau runtuh. Aku ketahuan!! Dan mau tidak mau aku harus mengatakan yang sebenarnya. Aku menjawabNya dengan takut-takut...”Aku, Tuhan. Aku yang melakukannya.” Dan akupun menuturkan apa yang terjadi, dan bahwa aku sudah sembuh. Maka kata-Nya kepadaku ketika itu: "Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!" Aku tersungkur lagi. Dia tidak marah. Dia menatapku dengan penuh kasih. Aku mengucap syukur bagi kebaikanNya.

Aku pulang tidak seperti ketika aku datang. Aku yang sekarang bukan aku yang tadi. Aku sudah sembuh!!! Aku sudah sembuh!!! Dengan sukacita aku bersorak sorai sambil berjalan pulang.

Teman-teman..kemarin aku mendengar orang-orang bersaksi tentang Dia, dan itu yang membuatku ingin bertemu dengan Yesus secara pribadi. Dan sekarang, aku yang bersaksi kepada kalian semua. Dia sungguh nyata. Aku berharap, apa yang kualami ini juga akan membawamu mengenal Yesus secara pribadi dan mengalami mukjizatNya yang nyata. Dia perdulikan aku, pasti Dia juga akan perdulikanmu. Amin.

By : Ps. Sariwati Goenawan

 

 

 
Designed by vonfio.de