Home Artikel Rohani Column By Sariwati THANKS FOR NOT SMOKING
THANKS FOR NOT SMOKING PDF Print E-mail
Written by sariwati   
Monday, 23 November 2009 13:24

1 Korintus 6:19  Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, —dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri?

                Kisah ini sangat menarik. Khususnya bagi mereka yang sampai hari ini masih merokok dan sulit untuk berhenti. Dan bagi mereka yang sedang mendoakan seseorang agar mereka bisa berhenti merokok untuk alasan apapun.

                Ya, merokok memang merupakan kegiatan egois yang sebetulnya sama sekali tidak ada keuntungannya menurut saya. Selain merusak kesehatan tubuh sendiri, merusak kantong, juga mengganggu kesehatan orang lain di sekitarnya. Tapi herannya, sekalipun setiap orang sudah tahu resikonya, tapi toh para perokok ini tetap saja melakukannya dengan alasan untuk kesenangan pribadi. Mereka tidak pernah menyadari seberapa jahatnya akibat yang ditimbulkan asap rokok itu bagi orang-orang di sekitar dan menjadikan mereka perokok pasif. Dan perokok pasif memiliki resiko yang lebih besar dari pada yang merokok itu sendiri.

                Puji Tuhan di keluarga saya tidak ada yang merokok. Suami saya pun tidak merokok sama sekali, dan itu membuat lingkungan rumah saya lebih sehat.

                Yang mau saya ceritakan adalah kisah dari keluarga sepupu saya yang kebetulan memiliki seorang suami yang perokok aktif. Bahkan bisa dibilang sangat aktif sehingga bisa menghabiskan satu bungkus satu hari jika sedang banyak pekerjaan dan banyak pikiran. Dan di usianya yang sudah setengah baya, dia bukannya makin mengurangi rokoknya, malah kelihatannya makin menjadi. Sangat menyedihkan bagi semua anggota keluarga. Di saat anak-anaknya sudah semakin besar dan  makin mengerti soal kesehatan, mereka – ibu dan ke dua anaknya itu – mulai berdoa sungguh-sungguh supaya sang ayah bisa berhenti merokok.

                Setiap hari mereka melakukan berbagai aksi untuk menunjukkan bahwa mereka sangat keberatan dengan kegiatan ayahnya yang satu ini. Kadang mereka menempelkan ayat-ayat yang ada hubungannya dengan hal ini di pintu kamar orang tuanya, atau menuliskan slogan-slogan yang mengatakan bahwa ‘merokok itu merusak kesehatan’ di kulkas. Setiap beberapa hari sekali mereka akan ganti dengan kalimat-kalimat lain yang mereka harapkan akan menarik perhatian ayah mereka dan menggugah hatinya.

                Begitu ada kesempatan untuk berbicara secara pribadi, maka mereka akan selalu mengungkapkan betapa mereka mengasihi ayah mereka, dan menunjukkan betapa mereka bersyukur memiliki ayah seperti dia yang sangat perduli pada keluarganya. Sembari mengatakan itu, mereka juga mengingatkan betapa mereka masih sangat membutuhkan sang ayah. Apa jadinya tanpa kehadiran ayah mereka di antara mereka? Hal itu seringkali dikatakan supaya sang ayah  menyadari betapa pentingnya kesehatan dirinya itu bagi seluruh keluarga.

                Bahkan pernah di satu kesempatan, ketika anaknya yang kecil berulang tahun, sang ayah bertanya kepadanya,”Nak, kamu berulang tahun hari ini, hadiah apa yang kamu mau papa belikan?” dan betapa terkejutnya sang ayah ketika anaknya menjawab demikian,”Pa..saya tidak mau hadiah apa-apa selain papa berhenti merokok. Kalau papa bisa melakukannya, saya akan sangat berterimakasih. Cuma itu yang saya mau.” Sang ayah hanya bisa terhenyak dan tidak bisa komentar apa-apa.

                Tapi apa yang anaknya katakan hari itu membuatnya berpikir keras dan mulai menggerakkan hatinya. Ia berusaha sebisa mungkin untuk mulai mengurangi rokoknya. Bukan cuma itu, ia malah benar-benar menghentikannya sama sekali. Itu bukan hal gampang. Ia benar-benar merasa tersiksa awalnya. Merokok sudah jadi bagian hidupnya berpuluh-puluh tahun. Jadi saat ia menghentikannya, ia merasa seperti orang sakaw dan hidupnya jadi tidak nyaman. Tubuhnya ‘nagih’ menginginkan asap rokok. Mencium asap rokok membuatnya selalu ingin kembali melakukannya.

                Disinilah peran keluarga sangat dibutuhkan. Sementara sang ayah mengusahakannya, seluruh keluarga juga mendukung dengan doa dan kata-kata yang sangat memotivasinya untuk melanjutkan usahanya.

                Setiap hari dia akan menemukan tulisan ini ,’Terimakasih papa tidak merokok lagi. Kami menyayangimu.’ Dan seluruh keluarga akan mendorong untuk terus melakukannya. “Papa hebat sudah sehari ini tidak menyentuh rokok. Ayo, pasti besok juga bisa.”

                Atau besoknya lagi anaknya satu persatu akan memeluknya dan mengucapkan terimakasih karena mereka tahu sekarang kalau ayahnya mengasihi mereka. Betapa mengharukan bagi sang ayah. Dan apa yang mereka lakukan itu membuatnya bertahan dalam perjuangannya itu.

                Pernah satu kali ia merasa tidak tahan menguasai keinginannya untuk merokok. Ia benar-benar ketagihan dan ingin melakukannya. Dan saking tidak tahan, ia berkata,”Kalau papa ga merokok, papa ga bisa kerja, dan kalau papa ga kerja, siapa yang mau kerja dan cari uang?” ia berharap istri dan anak-anaknya akan mengijinkannya merokok.

                Tapi jawaban mereka luar biasa. “Papa pasti bisa. Ayo pa, jangan kalah. Kita doa sama-sama biar Tuhan kasih papa kekuatan untuk bertahan dan mengalahkan keinginan itu.”

                Sang ayah luluh dan tidak bisa tidak, ia harus mentaatinya. Ia bertahan hari itu dan esoknya lagi, dan esoknya lagi, dan esoknya lagi, sampai tidak terasa sudah lebih dari enam bulan ia melakukannya sekarang. Semakin hari semakin biasa hidup tanpa rokok, dan tubuhnya lama kelamaan tidak memintanya lagi. Ternyata ia bisa melakukannya. Ia bisa hidup tanpa rokok.

                Ia benar-benar bersyukur punya keluarga yang mau mendukungnya dengan cara apapun. Ia menyadari itu semua anugerah yang Tuhan beri dalam hidupnya. Apalagi sekarang ia sangat aktif dalam pelayanan di sebuah persekutuan terkemuka di Bandung. Ia menjadi wakil koordinator wilayah di sana. Luar biasa. Memang Tuhan luar biasa.

                Jadi, bagi anda yang masih merokok, tidak ada alasan bagi anda untuk mengatakan tidak mungkin. Pasti bisa. Jika ada kemauan, pasti bisa. Tidak ada yang tidak mungkin bagi orang-orang yang mengasihi Dia. Dan kalau anda perduli dengan orang-orang yang mengasihimu dan yang kaukasihi, pasti anda bisa melakukannya. Percayalah. Tuhan akan memberi anda kekuatan dan kemampuan untuk melakukannya. Amin.

By : Ps. Sariwati Goenawan – IFGF GISI Bandung

 

 
Designed by vonfio.de