PERSEVERANCE PDF Print E-mail
Written by sariwati   
Wednesday, 25 April 2012 10:19

1 Tesalonika 1:3 Sebab kami selalu mengingat pekerjaan imanmu, usaha kasihmu dan ketekunan pengharapanmu kepada Tuhan kita Yesus Kristus di hadapan Allah dan Bapa kita.

 

Bermimpi dan membangun mimpi yang besar adalah satu hal. Memiliki rencana bagaimana membuat mimpi itu menjadi kenyataan adalah hal yang lain. Namun ada satu hal yang tidak boleh dilepaskan dalam semua proses membuat mimpi menjadi kenyataan ini, dan itu adalah KETEKUNAN atau dalam bahasa Inggrisnya, PERSEVERANCE.

Istilah ini aku dapatkan ketika aku memulai semester yang baru di masa SMA. Ketika itu guru bahasa Inggris saya, Mr. Ronald Iskandar (great thanks to him), membuka pelajaran pertamanya dengan memberikan sebuah puisi yang berjudul PERSEVERANCE. Sebuah dorongan yang baik bagi semua muridnya untuk melakukan semua hal dengan sebuah ketekunan. Dan entah mengapa, sejak hari itu juga kata ini begitu melekat kuat di pikiran saya.  Sebuah kata yang menarik dan saya sangat menyukainya.

Ketekunan. Yaa..banyak orang memiliki impian yang besar dan indah. Tapi giliran harus membuatnya menjadi kenyataan, sebagian dari mereka hanya mampu bertahan beberapa saat saja, karena ketika ada masalah yang menghadang maka dengan mudahnya mereka menyerah dan melepaskan semua impian yang mereka miliki itu.

Apa sih sebenarnya ketekunan itu?

Definition of PERSEVERANCE

: continued effort to do or achieve something despite difficulties, failure, or opposition : the action or condition or an instance of persevering : steadfastness (Webster Dictionary).

: usaha yang berkelanjutan yang dilakukan untuk mencapai sesuatu meskipun terdapat banyak kesulitan, kegagalan atau halangan : tindakan atau kondisi yang tidak tergoyahkan.

Itulah ketekunan. Dan aku rasa, memang sangat dibutuhkan sebuah ketekunan dalam mencapai banyak tujuan dalam hidup kita, karena tidak sedikit kesulitan dan halangan yang ada di hadapan kita. Tapi ketika kita punya tujuan dan kemauan yang kuat, ditambah dengan ketekunan, maka hampir lengkaplah sudah semua persyaratan yang perlu dimiliki.

Sebuah rencana yang baik untuk mencapai tujuan, itu baru sebagian dari perjalanan kita. Pada prakteknya, ketika kita mulai merasakan bahwa ternyata orang-orang di sekitar kita tidak mendukung rencana tersebut, lalu ketika kita melihat banyak kekurangan yang kita miliki, tentu semua itu semakin membuat semuanya menjadi sukar.

Pengalamanku sendiri, seringkali aku punya begitu banyak ide dalam pikiranku. Tapi setiap kali aku berusaha untuk menuliskan dan menjabarkannya, belum lagi aku melakukannya, aku sudah melihat begitu banyak kesulitan yang akan aku hadapi dalam mewujudkannya. Dan apa yang kulakukan? Aku akan dengan cepat membuang semua ide itu dengan segera, bahkan sebelum semuanya dimulai.

Tapi tak lama kemudian, aku akan menemukan ide yang baru lagi, tapi kali ini aku memperlakukannya dengan berbeda. Aku akan menuliskannya dan mencoba merumuskan apa yang ada dalam pikiranku, dan aku akan mengambil waktu untuk membicarakannya dengan beberapa rekan yang aku rasa bisa aku minta pendapatnya.

Aku tidak akan tergesa-gesa memutuskan apakah ide itu baik atau buruk. Aku benar-benar akan ‘menggodoknya’ sampai semuanya terasa tepat. Aku akan terus mengeksplorasi apa yang aku bisa, dan juga mencari banyak informasi dari sana sini, baik dari buku-buku atau dari bertanya kepada teman-teman. Bahkan aku akan mencoba menghubungi mereka yang lebih akhli dalam bidang itu jika memang diperlukan.

Dalam proses inipun aku akan mendengar banyak kritikan, dan mungkin juga akan terdapat banyak pendapat yang bertentangan denganku. Dan disinilah dibutuhkan ketekunan itu. Tentunya bukan ketekunan yang kaku. Aku akan belajar untuk menerima kekuranganku dan mencoba menerima pendapat dan masukan orang lain untuk memperbaiki apa yang sedang kubangun. Dan disini dibutuhkan kerendahan hati yang besar dan kerelaan untuk dibentuk.

Dan ketekunan akan membantu aku untuk terus bertahan dalam segala situasi yang aku hadapi. Meskipun semua proses itu tidak mudah, namun dengan ketekunan tersebut, aku belajar untuk terus bisa melakukan segala perubahan yang memang perlu aku lakukan.

Aku ingat dulu orang tuaku pernah memberikan nasihat, bahwa setiap orang sangat perlu memiliki ketekunan. Tidak ada kesuksesan yang datang dengan sendirinya. Ukuran keberhasilan akan dinilai sejalan dengan ketekunan yang kita miliki, karena memang semuanya ditentukan ketika proses itu berlangsung. Namun sayangnya, banyak orang terlalu cepat menilai sebuah hasil dari pekerjaan mereka hanya dengan waktu yang sangat singkat, dan ibarat sebuah benih yang ditabur di tanah, belum lagi sempat benih itu bertunas, keburu ditinggalkan dan dianggap tidak akan pernah bertumbuh. Padahal, siapa yang tahu akan hal itu? Jangan-jangan malah sebaliknya, ketika dianggap tidak menghasilkan, jangan-jangan sebenarnya hanya tinggal sebentar lagi saja maka benih itu bahkan sudah siap untuk menghasilkan buahnya.

Di jaman saya kecil, kebetulan saja ada contoh yang sangat baik yang dipakai oleh orang tuaku untuk hal tersebut. Saat itu ada satu tetangga yang begitu ingin memiliki sebuah usaha, mencontoh dari tetangga sekitar yang memang kami semua adalah pedagang. Keluarga tersebut memang memiliki lokasi yang sangat baik untuk membuka usaha. Hanya sayangnya, mereka tidak mengerti bagaimana cara mengelola sebuah toko. Alhasil, baru saja membuka toko untuk berjualan alat rumah tangga ketika itu, dalam hitungan beberapa bulan saja mereka sudah menggantinya dengan barang yang lain. Dan setelah itu, dalam hitungan bulan juga mereka menggantinya lagi dengan barang lain lagi. Dan terus demikian sampai akhirnya dalam waktu satu tahun saja mereka sudah menutup lagi toko tersebut.

Aku harap kisah ini bisa lebih menjelaskan arti ketekunan tersebut. Sebuah ketekunan bukan diukur dari berhasil atau tidaknya, tapi ketekunan diukur dari seberapa besar keinginan kita untuk mewujudkan impian kita. Ketekunan akan bisa diuji bukan dari kemampuan yang kita miliki, tapi akan tampak dan diuji dengan waktu.

Segala kesulitan dan rintangan yang akan kita hadapi bukanlah alasan untuk berhenti mewujudkan impian kita, tapi sebaliknya justru kita harus memandangnya sebagai challenge untuk kita bisa mengatasinya. Mengapa kita tidak memandang setiap challenge itu sebagai sebuah indikator di dalam setiap level yang kita alami, bahwa jika challenge itu masih kelihatan, artinya memang pekerjaan kita di level tersebut belumlah matang dengan sempurna, sehingga masih diperlukan upaya dan anugerah Tuhan untuk membuatnya berhasil.

Ya, di atas segalanya tetaplah kita memerlukan anugerah Tuhan untuk membawa kita kepada keberhasilan tersebut. Segala yang kita rencanakan, segala kerja keras kita, akan jauh lebih baik ketika kita membawanya kepada Tuhan, dan ijinkan Dia ikut campur dalam semuanya. Karena hikmat Tuhan jauh lebih besar dan lebih luas dari segala yang kita miliki. KecakapanNya sangat luar biasa, sudah teruji. Dalam membangun sebuah impian, Dialah akhlinya.

Dan jika saja kita menyadarinya, maka kita akan mengakui bahwa sesungguhnya, keberhasilan kita adalah impianNya yang terbesar. Dan Dia akan dengan senang hati menolong kita mewujudkan semuanya itu.

Dalam melalui semua proses kehidupan kita, Dia akan menyertai perjalanan kita dengan tidak ada lelahnya. Bertekunlah juga di dalam Dia. Dengan ketekunan kita akan semua ini, plus anugerah dari Dia, maka keberhasilan tentunya akan menjadi miliki kita secara utuh. Amin.

By : Ps. Sariwati Goenawan – IFGF GISI Bandung

 

 
Designed by vonfio.de