Home Artikel Rohani Column By Sariwati MENGGAPAI KEBAHAGIAAN – UTOPIA ATAU KENYATAAN?
MENGGAPAI KEBAHAGIAAN – UTOPIA ATAU KENYATAAN? PDF Print E-mail
Written by sariwati   
Monday, 09 July 2012 10:54

Amsal 3 : 17 – 18 “Jalannya adalah jalan penuh bahagia, segala jalannya sejahtera semata-mata. Ia menjadi pohon kehidupan bagi orang yang memegangnya, siapa yang berpegang padanya akan disebut berbahagia. “

Kebahagiaan, benda apakah itu sebenarnya? Mengapa setiap orang berlomba-lomba untuk mendapatkannya? Seperti apakah wujudnya? Dapat disentuhkah? Atau abstrak dan tak dapat dilihat dan diraba? Atau itu lebih merupakan alasan bagi para orang tua kita dahulu dalam menerapkan semua nasihatnya kepada kita, supaya kita mau melakukan semua itu?

Hmm..lama sekali aku merenungkan kata ini. Kebahagiaan..bisakah kita memperolehnya dengan gratis? Atau ada harga yang harus kita bayar untuk hal ini? Berapa harganya? Adakah jumlah tertentu? Bisakah kita menawarnya? Atau sudah harga mati, dan tidak bisa ditukar dengan apapun?

Semakin aku merenungkannya, aku merasakan bahwa kebahagiaan ini terasa rumit di kepalaku. Ya Tuhan..mengapa Engkau membuat sebuah standar yang rasanya sulit untuk diraih. Atau Engkau memang sengaja membuatnya demikian karena memang sepertinya kebahagiaan ini tidak diperuntukkan bagi setiap orang? Apakah itu artinya Engkau tidak adil dalam hal ini?

Ketika aku mencoba membandingkan hidup beberapa orang yang ada di sekitarku, aku menemukan begitu banyak perbedaan yang ada. Dan aku mulai mencoba untuk melihat dan menaruh hidupku di dalam 'sepatu' mereka.

Ada yang dilahirkan dalam keluarga yang sangat minim penghasilannya. Belum lagi dengan anggota keluarga yang banyak, berjubel dalam sebuah rumah yang sangat kecil. Dengan suara-suara yang sepertinya tidak ada habisnya terdengar dari setiap sudut rumah, saking banyaknya anggota keluarga dalam rumah itu. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana anak-anak mereka bisa belajar dengan tenang. Aku juga tidak heran kalau seandainya keluarga itu dipenuhi dengan pertengkaran dan konflik yang berkepanjangan, karena lihat saja cara mereka bergerak di dalam ruang yang sempit itu. Sedikit saja berjalan tentu akan berpapasan dengan siapapun di dalam rumah itu. Pertemuan-pertemuan itu tentunya akan membuat mereka tidak bisa lepas dengan sebuah masalah. Apalagi jika kondisinya sedang tidak nyaman bagi sebagian mereka.

Hampir tidak ada rahasia diantara mereka. Tua muda, besar kecil tentu akan saling bertukar cerita dengan tidak ada batasan. Yang tua akan tetap menjadi seperti anak-anak, sementara anak-anak mereka akan berubah menjadi dewasa dengan cepat karena apa yang mereka dengar sebenarnya bukan konsumsi mereka.

Namun semua itu tidak terhindarkan, karena situasi memaksa mereka harus bertahan. Pilihan mereka hanyalah tetap ada di sana sampai Tuhan membukakan jalan bagi mereka untuk bisa keluar dari lingkungan itu dan 'terbang' dalam impian mereka masing-masing.

Jika melihat kondisi itu, aku jadi bertanya-tanya...apakah di sana, di tengah semua kerumitan itu...mereka bisa menemukan yang namanya 'kebahagiaan'? Atau bahkan mereka tidak mengerti apa itu 'kebahagiaan' yang sebenarnya?

Sebaliknya, ada keluarga yang dilahirkan dengan segala kecukupan bahkan kelimpahan.

Dengan rumah yang relatif sangat besar, di dalamnya hanya diisi oleh 2 atau 3, atau 4 orang paling banyak. Kontras dengan kondisi yang sebelumnya, rumah ini terasa sangat lengang. Belum lagi dengan masing-masing memiliki kamar masing-masing yang dilengkapi dengan berbagai perlengkapan kebutuhan mereka di dalamnya, membuat mereka tidak merasa perlu terlalu banyak keluar dari kamar mereka, maka semakin lengkaplah kesunyian yang terasa di rumah itu.

Hanya sesekali dalam sehari, atau bahkan dalam beberapa hari saja mereka akan berkumpul di tengah ruang yang disebut 'ruang keluarga'. Itupun hanya terjadi beberapa jam saja. Sisanya, mereka akan lebih banyak berada di kamar pribadi dan sibuk dengan berbagai kegiatan masing-masing.

Kesunyian seperti ini sangat biasa di dalam rumah ini. Tidak ada yang komplen, dan tidak ada yang merasa aneh. Semuanya asyik dengan dirinya masing-masing.

Mengenai hal inipun aku bertanya-tanya..apakah ini yang namanya 'kebahagiaan'? Aku meragukannya juga.

Semua orang sibuk mencari 'kebahagiaan'. Dan semua orang meng-klaim bahwa mereka sedang berjalan mengupayakan 'kebahagiaan' itu bisa ada di dalam rumah mereka masing-masing.

Namun kalau aku boleh katakan dengan jujur...tidak ada 'kebahagiaan' yang langgeng di dunia ini. Semuanya bersifat sementara, dan sepertinya standar 'kebahagiaan' itu memiliki level yang terus berjalan sesuai dengan harapan dan standar dari setiap orang yang mengejarnya.

Apakah 'kebahagiaan' itu berjalan lurus dengan 'kepuasan'? Yaa..aku rasa begitu. Karena sepertinya, dua kata ini akan terus beriringan dalam pengertiannya. Tidak akan ada kebahagiaan tanpa kepuasan di dalam hidup ini. Kita bisa berkata bahwa kita bahagia jika kita merasa puas dengan apa yang kita miliki atau kita capai.

Sebaliknya, kita tidak pernah bisa merasa bahagia ketika kita tidak merasakan kepuasan dalamm hidup kita. Dan yang menjadi masalah, kepuasan itu pun ibaratnya seperti ban yang dapat berjalan. Semakin kita kejar semakin menjauh dari jangkauan kita. Dengan kata lain, kepuasan itu tidak ada batasan yang jelas. Akibatnya, kebahagiaan itu pun semakin sulit untuk diraih, karena kita pada akhirnya tidak akan pernah merasa puas.

Ada kalanya kita akan sampai di satu titik yang bisa membuat kita berkata bahwa kita merasa 'bahagia'. Namun di saat lain, bahkan bisa jadi itu tidak terlalu lama dari titik tersebut..dan kita akan merubah pendapat kita dan akan bertanya-tanya, 'Apakah kebahagiaan itu sebenarnya? Dan dimanakah kebahagiaan itu?'

Pertanyaan itu benar-benar membuat pernyataan sebelumnya yang dirasakan itu benar-benar hilang tak tentu rimbanya. Menguap bersamaan dengan detik-detik di mana ia mulai menaikkan standar dari 'kepuasan' tersebut.

Jika demikian kenyataannya, bagaimanakah caranya supaya hidup kita bisa benar-benar merasa bahagia? Supaya segala jerih payah kita benar-benar bisa kita nikmati dan membuahkan hasil dalam hidup kita?

Ingatkah ketika Tuhan berkata dalam firmanNya,'janganlah engkau menyimpang ke kanan atau ke kiri, supaya beruntung hidupmu?' Bukankah sangat membahagiakan jika bisa selalu beruntung di dalam hidup kita? Pesan yang sungguh dalam dariNya pada hari ini adalah supaya kita tidak menyimpang dari semua ajaran yang Dia tuliskan di dalam Alkitab tersebut.

Standar hidup kita boleh saja kita taruh tinggi-tinggi. Tapi ada standar yang lebih tinggi dari semua itu, yaitu standar dari Tuhan sendiri. Dan bersamaan dengan itu, ketika kita benar-benar menaruh fokus kita kepada standar yang Dia tetapkan, maka tentunya ketika kita berhasil mencapainya, maka 'kepuasan' yang sebenarnya akan kita dapatkan. Dan hasilnya akan memberikan 'kebahagiaan' yang kita dambakan.

Dan bukankah itu juga yang dituliskan di dalam Amsa, raja yang penuh dengan hikmat kebijaksanaan itu menuturkan bagaimana caranya bisa mendapatkan 'kebahagiaan' dan 'kepuasan' dalam hidup ini? Cobalah periksa dalam tulisannya tersebut...

Amsal 3: 11 – 18 Hai anakku, janganlah engkau menolak didikan TUHAN, dan janganlah engkau bosan akan peringatan-Nya. Karena TUHAN memberi ajaran kepada yang dikasihi-Nya, seperti seorang ayah kepada anak yang disayangi. Berbahagialah orang yang mendapat hikmat, orang yang memperoleh kepandaian, karena keuntungannya melebihi keuntungan perak, dan hasilnya melebihi emas. Ia lebih berharga dari pada permata; apapun yang kauinginkan, tidak dapat menyamainya. Umur panjang ada di tangan kanannya, di tangan kirinya kekayaan dan kehormatan. Jalannya adalah jalan penuh bahagia, segala jalannya sejahtera semata-mata. Ia menjadi pohon kehidupan bagi orang yang memegangnya, siapa yang berpegang padanya akan disebut berbahagia.

See ? Orang yang berbahagia adalah orang yang bisa menerima dan mengandalkan Tuhan dalam hidupnya, yang bisa menerima semua ajaran dan hikmat Tuhan. Seluruh kehidupannya akan dipenuhi dengan keuntungan yang tidak ternilai.

Dalam hal ini perlu kita tekankan juga bahwa ternyata kebahagiaan tidaklah bisa di identikkan dengan kekayaan secara materi. Kalau sampai hari ini kita semua masih mendasarkan kebahagiaan itu hanya pada nilai materi semata, maka hasilnya tentu adalah kekecewaan. Materi tidak akan pernah ada batasnya untuk kita raih. Apalagi jika kita selalu mengukur apa yang kita punya dengan apa yang dimiliki orang lain. Semakin kita mencobanya, maka kita akan semakin frustrasi.

Tapi sangat berbeda kalau kita belajar menaruh fokus kita kepada standar yang ditetapkan Tuhan, maka seluruh cara pandang kita pun akan berubah, karena ternyata ada satu hal yang lebih penting dari semuanya, dan itu adalah hikmat dan didikan Tuhan. Ketika kita memegang hal itu, maka kita akan seperti memiliki pohon kehidupan, yang dulu seharusnya dimiliki oleh manusia pertama, namun dia kehilangan hak atas pohon ini akibat dosa yang dilakukannya.

Namun kini, kita punya kesempatan untuk memegangnya lagi, apabila kita memiliki hikmat dan menerima pengajaran yang diberikan Tuhan.

'Kepuasan' dan 'kebahagiaan' tentunya akan membawa kita pada satu sikap hati yang memang Tuhan inginkan dalam hidup kita, yaitu 'pengucapan syukur' yang tidak ada hentinya. Dan 'pengucapan syukur' ini merupakan buah yang harus bisa kita petik dalam hidup kita. Tidak ada yang lebih baik dari itu.

Jika kita kembali kepada keluarga-keluarga yang tadi aku tuturkan, seperti apapun kondisi mereka dan seperti bagaimanapun kehidupan mereka, sebetulnya kebahagiaan itu tidak terletak dari situasi dan kondisi mereka saat ini secara fisik atau materi, tapi lebih dari dalam hati.

Ketika hati mereka berlimpah dengan syukur, maka disitu akan terdapat kepuasan. Dan ketika rasa puas melimpah di dalam hidup mereka, maka disitu akan ada suka cita dan kebahagiaan tersebut.

Kesmpulanku hari ini, kebahagiaan tentu bisa kita miliki dan sangat mungkin untuk dimiliki oleh siapa saja, dengan latar belakang apa saja, asalkan mereka mau menyerahkan hidup dan masa depan mereka ke dalam tangan Tuhan. Amin.

By : Ps. Sariwati Goenawan – IFGF GISI Bandung

 
Designed by vonfio.de