Home Artikel Rohani Column By Sariwati MENGAJARI PENGATURAN KEUANGAN
MENGAJARI PENGATURAN KEUANGAN PDF Print E-mail
Written by sariwati   
Friday, 22 June 2012 15:09

Amsal 21:20 Harta yang indah dan minyak ada di kediaman orang bijak, tetapi orang yang bebal memboroskannya.

Waktu saya masih kecil, karena saya berasal dari latar belakang keluarga pedagang, ayah ibu saya tidak pernah memberikan uang tambahan di luar uang jajan untuk bekal ke sekolah kepada saya, tanpa saya bekerja terlebih dahulu. Mereka selalu mengharuskan saya untuk membantu menjaga toko sepulang sekolah, dan di akhir minggu mereka akan menghitung berapa hari kerja saya dan memberikan sejumlah uang sebagai hasil kerja saya.  Dari uang tambahan itulah biasanya akan saya tabung untuk membeli sesuatu yang saya perlukan atau yang saya inginkan.

Kedengarannya kok sangat memprihatinkan ya. Saya juga pada saat itu menganggap bahwa apa yang orang tua saya lakukan itu bukanlah suatu hal yang umum, karena kebanyakan teman-teman saya akan mendapatkan uang lebih mudah tanpa harus bekerja kerjas lebih dulu.

Tapi saat ini, setelah puluhan tahun berlalu, dan setelah saya semakin dewasa, akhirnya saya malah mensyukuri apa yang orang tua saya lakukan pada saat itu. Didikan yang mereka berikan pada saya justru adalah satu cara yang membuat saya bisa lebih dewasa dalam menggunakan dan mengatur keuangan. Saya jadi lebih menghargai orang tua saya yang berjerih lelah mencari uang bagi anak-anaknya.

Berbeda dengan orang tua saya, karena alasan yang sangat klise bagi setiap generasi – yaitu : jangan sampai anak-anak mengalami apa yang kita alami dulu - maka saya justru memberikan banyak kemudahan pada awalnya bagi anak-anak saya. Tapi setelah mereka makin besar dan melewati beberapa kejadian, akhirnya saya menyadari bahwa anak-anak akan terbentuk seperti apa yang kita taruh di dalam diri mereka. Dan akhirnya kami mengubah cara kami dalam mendidik mereka, khususnya dalam hal keuangan.

Berikut ini saya ingin menceritakan tentang pengalaman saya dalam menerapkan pengaturan keuangan terhadap anak-anak saya. Mudah-mudahan apa yang saya ceritakan ini bisa berguna bagi banyak orang tua yang sedang kebingungan dalam mendidik anak-anaknya.

Merupakan satu kebiasaan bagi keluarga saya untuk pergi ke supermarket setiap kali berbelanja kebutuhan rumah tangga. Dan setiap kali pergi ke sana, maka kebiasaan kami adalah membiarkan anak-anak kami untuk berpencar dan mengambil makanan apapun yang mereka inginkan dan dimasukkan ke dalam keranjang belanjaan kami. Hal ini sudah menjadi kebiasaan yang terjadi begitu saja dan sepertinya tidak bisa diubah.

Dan memang menyenangkan untuk melihat mereka berdua berlari-lari di lorong demi lorong, ‘browsing’ sendiri dan memilih sendiri. Memang bukan artinya mereka mendapatkan satu ijin yang tidak terbatas, tapi tetap saja diberikan kelonggaran yang sangat besar untuk melakukannya. Mereka hanya tinggal menunjukkan pilihan mereka, dan jarang sekali kami menggelengkan kepala. Lebih sering kami menganggukkan kepala kami dan menyetujuinya.

Sampai satu kali kami merasa bahwa kebiasaan ini benar-benar buruk bagi mereka.  Mendapatkan suatu hal yang terlalu mudah membuat mereka tidak terlalu menghargai barang tersebut. Seringkali akhirnya apa yang mereka beli itu jadi tidak dihabiskan sebagaimana mestinya. Padahal apa yang mereka beli tidak sedikit menghabiskan uang kami.

Melihat hal itu membuat kami jadi berpikir, harus melakukan sesuatu untuk memperbaikinya. Dan perubahan itu harus dari kami dulu, barulah bisa diterapkan kepada mereka. Tentu saja dengan satu ketegasan dan disiplin diri barulah hal ini bisa dilakukan dengan baik.

Sebuah perubahan akan terjadi ketika kita memutuskan untuk mau melakukannya. Dan dengan pertimbangan itulah maka kami pun mengubah kebiasaan kami :

  1. MENETAPKAN JATAH BAGI ANAK-ANAK DAN MEMBIASAKANNYA

Sebuah kebiasaan yang baru pun mulai dilakukan. Ketika kami pergi ke supermarket, kami membuat satu persyaratan di awal, bahwa mulai hari itu kami akan menerapkan cara baru dalam berbelanja.

Kami sebagai orang tua hanya akan membeli barang-barang yang diperlukan saja, dan itupun akan dibatasi sejumlah uang tunai yang kami bawa. Kartu kredit tidak menjadi opsi atau pilihan untuk membayar. Suatu pantangan untuk dilakukan. Awalnya sulit, namun kami bertekat melakukannya.

Sementara untuk anak-anak, kami membagikan masing-masing sejumlah Rp 15,000.- untuk dibelanjakan sesuka mereka. Apa saja boleh dibeli asal tidak lebih dari jumlah itu, dan dengan perjanjian jika ada sisa uang, maka sisanya itu akan menjadi milik mereka. Keduanya bersorak senang dan setuju dengan perjanjian ini. Dalam sekejap mata mereka pun berlarian memisahkan diri dari kami sambil membawa satu keranjang untuk berdua. Kami hanya melihat dari kejauhan sambil mengawasi mereka.

Sambil berjalan melintasi lorong demi lorong dan mengumpulkan barang-barang kebutuhan pokok yang akan kami beli, tidak lupa kami akan melongok dan mencari-cari keberadaan anak-anak kami. Jika kami merasa mereka baik-baik saja, maka akan kami tinggalkan dan melanjutkan kegiatan kami.

Tapi alangkah lucunya hasil eksperimen kami hari itu. Yang terjadi sungguh di luar dugaan kami. Mengingat hal itu masih mampu membuat saya tersenyum saat saya menuliskan kisah ini. Anda perlu mencobanya pada anak-anak anda.

Setiap kali kami berhenti melihat keadaan mereka, kami melihat mereka sedang berdiskusi berdua. Masing-masing bertanya dan menghitung-hitung kira-kira sudah berapa jumlah yang mereka beli. Dan sepertinya, kalau jumlahnya melampaui uang yang mereka dapat, maka akan ditaruh kembali ke tempatnya. Begitulah yang mereka lakukan sampai akhirnya waktu untuk berbelanja berakhir.

Di depan kasir, kami ijinkan mereka untuk membayar terlebih dahulu. Dan untuk memudahkan, maka mereka akan membayar belanjaan mereka masing-masing, tanpa mengganggu uang sang adik atau sang kakak. Dan anda tahu hasilnya ?

Sepulang dari supermarket, masing-masing dengan satu kantong plastik di tangan, berisi beberapa belanjaan saja. Mereka tidak membeli sebanyak yang biasanya mereka ambil. Dan ketika di mobil mereka menghitung sisa uang mereka, hampir setengah dari yang mereka dapat masih tersisa di kantong mereka dan bisa ditabung sepulang dari situ. Sangat menggelikan bukan?

Di sepanjang perjalanan pulang, kami mendengar mereka berdua terus berceloteh dan saling membandingkan apa yang mereka beli dan berapa yang mereka habiskan. Dan rupanya, keputusan masing-masing akan dinilai oleh yang lainnya apakah itu benar atau tidak. Lucu sekali mendengarkannya.

Ternyata, sekalipun bagi anak-anak, diajari tentang mengatur hak kepemilikan itu sangatlah perlu. Hasil yang sangat berbeda terjadi di antara mereka. Kalau sebelumnya mereka begitu boros dan menghabiskan banyak hal, justru sekarang mereka bisa mengatur dengan sangat baik.

Dengan cara sebelumnya, mereka tidak pernah berpikir bagaimana pengaturannya karena mereka tidak pernah mengerti tentang suatu jumlah tertentu yang merupakan ‘batas’ pemakaian. Tapi dengan diberikan terlebih dahulu suatu jumlah tersebut, membuat mereka melihat ‘batas’ itu dan melatih mereka mengaturnya. Menarik sekali.

Kalau dulunya mereka merasa bebas mengambil apa saja tanpa ada kendali, justru dengan cara ini mereka bisa mengekang keinginan mereka dan memilih apa yang lebih baik. Dan mereka mulai mengerti tentang betapa berharganya uang itu bagi mereka. Mereka lebih memilih untuk menabungnya daripada menghabiskan untuk hal yang tidak perlu.

  1. MEMBERIKAN KEPERCAYAAN KEPADA ANAK-ANAK

Ketika mengajarkan dan menerapkan hal ini, berikanlah kepercayaan kepada anak-anak kita untuk mengatur apa yang menjadi milik mereka itu. Biarkan mereka belajar untuk memilih apa yang baik menurut mereka, jangan terlalu tergesa-gesa memprotes dan ikut campur dalam pemilihan itu. Kecuali kalau mereka menanyakannya kepada kita sebagai orang tua. Jika tidak, maka ijinkan mereka berbelanja sesuai dengan keinginan dan harapan mereka, kecuali kalau hal itu benar-benar membahayakan bagi mereka.

  1. MENGAJARI HAL MEMBERI DAN PERPULUHAN

Yang juga tidak lupa kami ajarkan adalah bagaimana menyisihkan uang mereka untuk perpuluhan. Sekalipun awalnya berat, tapi kami tidak jemu-jemu mengingatkannya kepada mereka. Dan lama kelamaan, hal ini pun menjadi satu kebiasaan yang baik dan tidak lagi sulit melakukannya.

Hal ini perlu sekali untuk ditanam sejak dini, selagi apa yang mereka miliki belum terlalu besar. Ajarkan prinsip firman Tuhan tentang hal ini. Supaya mereka juga melakukannya dengan satu pengharapan kepada kebaikan Tuhan, dan bukan sekedar kewajiban yang mempersulit diri mereka

Maleakhi 3 : 10 Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan.

Bacakan ayat ini dan walau mereka belum bisa menangkapnya secara benar, tapi ayat ini akan bergerak sebagaimana yang Tuhan perintahkan, dan akan menghasilkan hal yang baik bagi anak-anak ini nantinya. Tugas kita sebagai orang tua adalah mengajarkannya dengan berulang-ulang kepada mereka.

 

  1. MEMBERIKAN OTORITAS KEPADA ‘HARTA’ MILIK MEREKA

Matius 6:21 Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.

Sejumlah uang yang diberikan kepada mereka tadi akan menjadi satu ‘area’ yang menjadi ‘harta’ mereka pada saat itu. Kita sebagai orang tua hanya bisa mengawasi tanpa terlalu banyak campur tangan, karena ketika kita memberikannya kepada mereka sama artinya kita sudah memberikan “hak kepemilikan” itu kepada mereka. Jadi, segala otoritas atas jumlah tersebut ada pada anak-anak itu dan bukan lagi pada kita.

Berapa yang mereka akan habiskan dan berapa yang akan mereka simpan, itu adalah keputusan mereka. Jangan tergesa-gesa membantah atau menggurui. Bahkan jika sekalipun mereka membelanjakan melebihi batas tersebut, biarkan mereka mengalaminya ketika mereka sampai di kasir. Mereka akan belajar menyelesaikan masalah itu sendiri nantinya. Jangan beri pertolongan yang tidak perlu, karena mereka akan memiliki respon yang otomatis untuk memperbaikinya. Dan anda akan sangat bangga dengan anak-anak tersebut nantinya.

Hal penting yang harus diajarkan adalah agar mereka tidak menaruh hati mereka kepada ‘harta’ itu lebih dari pada kepada Tuhan. Beri pengertian yang benar bahwa uang bukanlah segalanya. Tapi  kasih Tuhanlah yang mereka perlukan. Sehingga jangan sampai mereka nantinya akan menjadi ‘hamba uang’. Beri mereka pengertian supaya mereka bisa menjadi hamba Tuhan yang tahu kebenaran firman dan mampu menerapkannya.

 

  1. MEMBIARKAN ANAK-ANAK MENJADI MANAJER ATAS SELURUH MILIKNYA SENDIRI

Amsal 8 : 20, 21 Aku berjalan pada jalan kebenaran, di tengah-tengah jalan keadilan, supaya kuwariskan harta kepada yang mengasihi aku, dan kuisi penuh perbendaharaan mereka.

Ketika anda mulai membiasakan hal ini, sebagai kelanjutannya anda dapat merasakan manfaat yang sangat besar dalam jangka panjang. Seperti yang saya alami sendiri, setiap kali berbelanja dan kami menerapkan hal tersebut diatas, ternyata efeknya sangat baik dalam kelanjutannya.

Anak-anak kami akhirnya mempunyai kesadaran menabung yang sangat baik. Bahkan bukan cuma terhadap uang yang mereka dapat ketika berbelanja itu, tapi juga terhadap uang jajan mereka setiap hari. Anak-anak itu selalu bisa menyisihkan uang jajannya untuk ditabung.

Semua jumlah yang mereka tabung adalah milik anak-anak tersebut. Kami tidak akan mengganggunya.  Hanya saja setiap kali mereka merasa ingin membeli sesuatu dari uang itu, karena mereka selalu bertanya pada kami, maka kami akan memberikan nasihat untuk pemakaiannya.

Suatu pengalaman yang sangat mengharukan adalah setiap kali mereka naik kelas di sekolah. Seperti yang pasti anda juga alami, setiap kali kenaikan kelas, maka anak-anak diharuskan membeli buku-buku pelajaran tahun ajaran baru secara paket sejak awal semester. Dan tentu saja untuk membeli buku-buku itu diperlukan sejumlah uang yang lumayan jumlahnya.

Puji syukur kepada Tuhan buat anak-anak yang dahsyat ini. Setiap kenaikan kelas, barulah mereka akan membuka celengan mereka dan menghitung berapa yang mereka miliki. Dan biasanya, jumlahnya sudah lumayan. Alhasil, hampir setiap tahun, mereka selalu bisa membeli buku-buku itu dari uang tabungan sendiri. Keputusan itu diambil oleh mereka sendiri, tanpa paksaan dari kami.

Ternyata, ketika kami bisa memberikan kepercayaan kepada mereka untuk menjadi manajer atas segala miliknya sendiri itu, justru membuat mereka bisa mengaturnya dengan baik. Tanggung jawab yang kami berikan tidak disia-siakannya. Kami sangat bangga dengan keputusan mereka ini. Sungguh tidak sia-sia semua yang kami taruh dalam diri mereka selama ini.

Dan bahkan ada kalanya di masa yang cukup sulit dan memang keuangan kami sedikit menipis, maka mereka dengan manisnya akan menawarkan kepada kami untuk menggunakan uang tabungan mereka untuk membeli apa yang kami perlu. Mengharukan sekali. Tapi Allah kita adalah Allah yang teruji. Belum pernah sampai membiarkan hal itu terjadi, Dia selalu sudah mengirimkan terlebih dahulu kepada kami. Puji Tuhan. Tapi sikap anak-anak kami ini benar-benar membanggakan kami sebagai orang tuanya.

 

  1. MENGAJARKAN BAGAIMANA PRINSIP BERIMAN DAN MENANTIKAN JANJI TUHAN DIGENAPI

Di atas semua itu, tentunya kami mengajarkan kepada mereka bagaimana caranya menaruh iman pada janji Tuhan dan menantikan hal itu digenapi dalam hidup mereka.

Ada kalanya kami akan membiarkan suatu permintaan yang mereka ajukan tidak segera kami jawab. Tapi tentu saja ada tujuannya mengapa kami lakukan itu. Kami mengajar kepada mereka untuk berdoa lebih banyak dan memintanya dari Bapa di surga terlebih dahulu, supaya mereka bisa melihat kebaikan Tuhan melalui kami.

Dan ketika akhirnya kami bisa memenuhi permintaan itu, maka mereka akan memuji Tuhan dan mengucap syukur untuk doa yang terjawab itu. Sangat menyenangkan menaruh nilai-nilai positif ini dalam diri anak-anak kami.

Satu pengalaman yang belum lama kami alami, ketika Jonathan – anak kami yang pertama – menginginkan sebuah sepeda. Tidak tanggung-tanggung, yang dia inginkan adalah sebuah MTB (Mountain Bike), yang harganya sangat mahal buat ukuran kami.

Hampir setiap hari dia menyebut-nyebut keinginannya ini dan berharap bisa mendapatkannya di hari ulang tahunnya yang ke 10 kemarin. Wah, saya tidak berani berjanji untuk itu. Apalagi setelah kami cek di sebuah toko, ternyata memang harganya tidak masuk anggaran kami sama sekali.

Akhirnya, yang bisa kami ajarkan kepada anak saya adalah  berdoa dan memintanya dari Bapa di surga. Dan tepat seperti itulah yang dia lakukan.

Setiap malam, menjelang kami tidur, dia selalu menambahkan doa malam kami dengan doanya sendiri,”Tuhan..Jonathan ingin sekali sepeda MTB. Tolong cukupkan uang mami untuk bisa membelinya yaa..dalam nama Yesus..Amin.”

Doa sederhana tapi penuh dengan iman dan pengharapan bahwa Tuhan pasti dapat memenuhinya, ia naikkan setiap malam, selama beberapa minggu. Dan memang kenyataannya kami juga belum tahu bagaimana memenuhi keinginannya itu.

Kami memang tidak tahu caranya, tapi Bapa di surga tahu.

Dengan caranya yang ajaib, Bapa memakai salah satu anak bimbingan saya menjadi saluran berkat itu. Pada satu hari, ia datang dan memberikan sepucuk surat buat saya, dengan pesan untuk membukanya di rumah. Ketika saya pegang amplop itu, saya tahu itu berisi uang. Saya bertanya kepadanya dalam rangka apa itu, dia hanya tersenyum dan mengatakan buka saja di rumah.

Ketika saya membukanya, saya menemukan sehelai kertas bertuliskan demikian,”Pastor..ini ada berkat untuk Jonathan membeli sepeda.” Saya sungguh tercengang melihat tulisan itu. Di luar dugaan saya sama sekali. Tidak pernah terlintas bahwa sepeda ini akan diperoleh Jonathan dengan cara ini. Tapi itulah yang terjadi.

Doa yang ia naikkan menghasilkan kepenuhan sukacita di dalam Tuhan. Jonathan senang sekali ketika saya menyampaikan hal ini. Dengan segera ia berdoa,”Tuhan...terimakasih untuk sepedanya..Jonathan senang sekali..” dan tidak lupa ia juga berterimakasih kepada  Icha, orang yang Tuhan kirim untuk memberi tersebut.

Luar biasa bukan? Itulah yang selalu kami lakukan kepada anak-anak kami, dalam hal apapun. Supaya mereka belajar dan menemukan bahwa kehidupan mereka bukan dikendalikan oleh kekuatan sendiri, tetapi karena ada tangan Tuhan yang selalu memberi pertolongan tepat pada waktunya.

 

“Anak-anak adalah milik masa depan...” kata pujangga besar Kahlil Gibran, dan saya sangat setuju dengan ini. Jadi, jangan pernah salah dalam mendidik anak-anak kita. Tugas kita sebagai orang tua adalah mendidik dan mempersiapkan mereka untuk menghadapi masa depan mereka sendiri. Harus kita sadari bahwa tidak selamanya kita bisa mendampingi mereka. Yang perlu kita pikirkan adalah justru bagaimana kalau seandainya kita tidak ada lagi atau tidak mampu lagi menyertai dan membiayai mereka. Apa yang akan terjadi jika kita tidak mengajarkan kepada mereka suatu daya juang menghadapi kerasnya hidup ini.

Dengan dasar pemikiran itulah maka saya dan suami saya mengajarkan semua ini kepada anak-anak kami dan sekaligus menanamkan nilai-nilai yang lebih tinggi lagi dalam belajar beriman dan menanti-nantikan digenapinya janji-janji Tuhan dalam kehidupan kami. Karena kami berharap bahwa mereka akan memiliki satu pondasi yang kuat dalam membangun tatanan nilai dalam kehidupan beriman bersama dengan Tuhan dan menerapkannya dalam diri mereka.

By : Ps. Sariwati Goenawan – IFGF GISI Bandung

 

 

 
Designed by vonfio.de