Home Artikel Rohani Column By Sariwati JANGAN TAKUT...PERCAYA SAJA.
JANGAN TAKUT...PERCAYA SAJA. PDF Print E-mail
Written by sariwati   
Wednesday, 18 July 2012 17:54

Markus 5 : 36 Tetapi Yesus tidak menghiraukan perkataan mereka dan berkata kepada kepala rumah ibadat: "Jangan takut, percaya saja!"

Perjalanan ke Cirebon bukan hal yang baru buat aku. Apalagi belakangan ini. Rasanya hampir setiap bulan aku akan pulang pergi ke sana. Perjalanan yang lumayan panjang sebenarnya, karena memerlukan waktu hampir 5 jam untuk mencapai tempat itu dari Bandung. Itu kalau tidak macet lho..karena kalau macet, maka artinya waktu tempuh itu akan lebih panjang lagi dari biasanya.

Dalam perjalanan pulang hari itu aku mengalami kemacetan yang lumayan lama. Biasanya daerah stagnasi itu selalu di belokan-belokan Cadas Pangeran. Memang jika hari mulai malam, biasanya dari daerah Jatiwangi ke Bandung itu akan terdapat banyak bis dan truk dengan muatan yang berat. Alhasil, mereka harus berjalan perlahan-lahan. Dan akibatnya tentu memberikan dampak yang besar kepada seluruh laju kendaraan yang lainnya. Iring-iringan panjang pun akan terjadi, dan tentunya akan mempengaruhi seluruh kendaraan yang ada di lajur tersebut. Biasanya hal ini bisa berefek panjang sampai beberapa kilometer di belakangnya.

Pada hari itu sepertinya bukan hanya iring-iringan yang panjang saja, tapi benar-benar membuat kendaraan itu berhenti menunggu untuk waktu yang lumayan lama. Ada kira-kira hampir satu jam kendaraan yang aku tumpangi itu tidak bisa bergerak, berhenti di satu titik di daerah tersebut.

Berhentinya kendaraan itu tentu diluar perhitungan normal. Padahal kalau berjalan lancar, maka perjalanan pulangku sebenarnya hanya tinggal 1,5 - 2 jam lagi saja. Tapi dengan berhentinya itu, entahlah...it can be forever....(mengeluh).

Teman, keadaan macet seperti itu sebenarnya adalah hal yang biasa. Bisa terjadi pada siapa saja, dan sangat lumrah. Tidak perlu merasa bersalah dan tidak perlu menyalahkan siapa-siapa juga. Yang perlu kita nilai adalah bagaimana sikap kita ketika kita berada dalam situasi seperti itu. Apakah kita akan meradang dan berteriak-teriak? Atau akan mulai keluar dari kendaraan dan menyalahkan siapa saja yang ada di sekitarnya? Atau akan mulai mengambil sikap ekstrim, keluar dari mobil dan meninggalkannya sambil membawa seluruh bawaanmu dan memilih untuk berjalan kaki saja? Hahaha..rasanya yang ini bukan pilihan banyak orang.

Tapi bisa juga kita mengambil sikap untuk tenang dan menikmati kemacetan itu dengan cara kita. Menarik nafas panjang, putar lagu yang menenagkan hati, mengambil snack jika masih ada, atau membuka bacaan dan mulai membacanya untuk melewatkan waktu tersebut. Atau jika ada teman, mulailah membuka pembicaraan dan menghabiskan waktu bersama dia dengan cara yang aman. Kesemuanya itu tentu bisa membantu menghilangkan kejenuhan tersebut.

Namun karena kebetulan aku pergi sendirian hari itu, jadilah mau tidak mau aku memikirkan hal-hal yang kreatif untuk melewatkannya. Selain menghabiskan snack yang tersisa, mendengarkan musik dari earphone, sambil membaca ebook, aku juga memikirkan banyak hal untuk rencana ke depan. Ada banyak hal yang kupikirkan hari itu.

Aku benar-benar berusaha menikmati kemacetan itu sebenarnya. Namun karena sepertinya tidak ada pergerakan sama sekali, lama-lama aku jadi gelisah juga. Ada apa ini sebenarnya? Aku mulai mencari-cari info dari sekitarku. Siapa tahu mereka mendadak menjadi pembawa berita baik. Terutama dari supir travel yang kutumpangi. Sayangnya dia sendiri tidak bisa memberikan informasi apa-apa.

Karena tidak ada orang yang bisa memberiku informasi yang kubutuhkan, hatiku mulai gelisah juga. Dan kepalaku mulai berdenyut mengikutinya. Aduuhh..ada apa ini sebenarnya? Sementara tubuhku mulai kelelahan sehabis pelayanan dua hari ini, dan aku benar-benar ingin pulang dan sampai di rumah untuk bisa beristirahat. Namun keadaan ini benar-benar membuatku penat. Begitu semua pemikiran itu sampai di kepalaku, seluruh tubuhku pun menjawabnya dengan keletihan yang luar biasa.

Aku membayangkan, aduuuhh alangkah enaknya ya jika saat ini aku bisa duduk di kursi pijat. Dan seluruh otot tubuhku seperti 'menagih' hal itu sekarang. Semakin parahlah situasi hari itu. Bisa anda bayangkan, aku...dalam kondisi yang lelah dan letih, dengan tubuh yang sudah kelelahan juga, berada dalam kotak yang tidak bergerak, dalam situasi macet di tengah-tengah daerah yang gelap, perut mulai lapar, dan sepertinya tidak ada jalan keluar dari sana. Lengkaplah sudah semua penderitaanku hari itu.

Rasanya aku ingin berteriak meminta pertolongan. Atau setidaknya ada seseorang yang bisa memberitahuku ada apa sebenarnya yang menyebabkan kemacetan ini?  Dan kapan kira-kira kita bisa sama-sama keluar dari kemacetan ini?

Namun ketika aku baru saja memikirkan hal tersebut, tiba-tiba sepertinya Tuhan memberiku hikmat yang baru mengenai hal ini. Macet....yaa..terkadang itu bisa terjadi juga dalam hidup kita.

Di tengah-tengah segala kenyamanan kita, tiba-tiba sesuatu terjadi. Sesuatu yang kita tidak pernah mengerti, tidak pernah kita rencanakan, tidak pernah kita harapkan, tapi tiba-tiba terjadi, dan menyebabkan 'kemacetan' dalam hidup kita. Semuanya sepertinya tiba-tiba 'berhenti'.

Apakah selalu karena kesalahan kita? Tidak juga. Tidak semuanya karena kesalahan kita. Tapi memang kita berada di dalam dunia yang begitu rumit, dan kita menghadapi banyak orang yang mungkin memiliki kondisi yang sama. Dan meskipun kita tidak melakukan kesalahan apapun, pada satu saat sepertinya toh kita tetap akan berada dalam situasi tersebut.

Tiba-tiba saja, ada orang yang bisa kehilangan pekerjaan, bukan karena dia bersalah...tapi karena perusahaan sekarang dengan mudah bisa mendapatkan orang yang lebih 'fresh' dengan gaji yang lebih murah dibandingkan jika mempertahankan orang lama yang mungkin sudah tidak terlalu produktif dengan salary yang lebih tinggi. Apakah itu kesalahan dia? Belum tentu...tapi situasinya mengharuskan demikian.

Atau tiba-tiba toko kita menjadi sepi, karena persaingan yang tinggi, banyak toko baru bermunculan. Jumlah pembeli yang tadinya tidak memiliki banyak pilihan untuk berbelanja, kini mereka mempunyai banyak pilihan. Dan situasi ini membuat kita menjadi harus berpikir lebih keras bagaimana caranya mempertahankan pelanggan. Apakah ini salah kita? Belum tentu.

Saudaraku, semua kondisi bisa berubah dengan cepat. Dari kondisi yang tadinya baik-baik saja, kini bisa jadi berantakan. Tapi bisa juga terjadi sebaliknya, dari kemacetan yang lumayan lama, akhirnya terjadi juga 'breakthrough' dan kita bisa berjalan dengan lancar. Semuanya bisa terjadi.

Yang menjadi masalah adalah, bagaimana sikap kita ketika segala kemacetan itu terjadi? Apa yang kita lakukan? Apa yang kita pikirkan? Apa yang menjadi tindakan akhir kita? Apa keputusan kita?

Yairus..seorang pejabat yang datang kepada Yesus hari itu – dalam kisah Markus 5 – dia datang membawa sebuah persoalan yang berat baginya dan keluarganya. Anak kesayangannya sakit keras dan hampir mati.

Ia sengaja berjalan dari desanya menuju tempat dimana Yesus berada hari itu untuk meminta pertolonganNya supaya Ia bisa datang ke rumahnya dan menyembuhkan anaknya. Tapi sesampainya di tempat itu, selagi ia sudah berbicara dengan Yesus, dan ia sedang berusaha supaya mereka bisa berjalan dengan segera kembali ke rumahnya, tiba-tiba saja Yesus berhenti dan bertanya,” siapa yang menjamah jubahku?”

Ya Tuhan...apa-apaan ini? Apakah Yesus sedang bercanda? Sedari tadi begitu banyak orang yang berbondong-bondong mengikutiNya, dan kini Ia bertanya..'siapa yang menjamah jubahNya?' aaahhh common...don't be joking at the time like this. Dalam hatinya Yairus lumayan mendongkol, hanya saja ia tidak berani mengatakan apapun. Ingin ia menerangkan kepada Yesus, tentu saja banyak yang menjamah jubahMu Guru, karena kondisinya begitu padat dan penuh sesak. Semua orang tentu bisa menjamah jubahMu. Tapi yang penting sekarang, ayolah segera ke rumahku..anakku benar-benar membutuhkanMu. Now ...or she die!!! itulah yang ada dalam pikiranNya.

Ingin Yairus menghentakkan kakinya ketika itu juga. Hanya ia menahan diri karena ia menyadari bahwa ia tidak mungkin mengatur Yesus. Ia perlu berlaku sopan dan sabar menantikanNya bergerak ke rumahnya. Dan demi membantu Yesus ketika itu, ia pun ikut mencari-cari siapa gerangan yang 'mencuri' perhatian Yesus itu. Kepalanya berputar mengitari tempat itu, namun ia tidak menemukannya.

“Aku merasakan ada kuasa yang keluar dari tubuhKu..”kata Yesus lagi. Oooo ternyata itu yang membuat Yesus berhenti dan bertanya. Rupanya ada seseorang yang benar-benar 'menghentikan' perhatianNya daripada Yairus dan 'mengalihkan' pandanganNya.

Aduuuuuhhh Tuhanku..cepatlah sedikit...anakku..anakku sudah di ujung tanduk. Please...please....rintihnya dalam hatinya. Tapi ia tidak bisa melakukan apa-apa. Ia hanya bisa pasrah menantikan Yesus bergerak.

Dan saat itulah ia baru memperhatikan ada seorang perempuan yang 'melantai' di dekat mereka, hampir tidak terperhatikan karena dia memang tidak sedang berdiri. Ia berjalan menyeret tubuhnya di tengah-tengah kerumunan itu. Ahaaa ... ini rupanya biang kerok itu, yang berani-beraninya menyelak dia, seorang pejabat kerajaan. Huh!!! hatinya sangat masgul karenanya. Namun ia tidak berani memprotes. Ia hanya bisa pasrah menantikan Yesus bergerak lagi bagi dia.

Sementara itu wanita itu begitu ketakutan karena perbuatannya ketahuan. Rasakan!! pikir Yairus dalam hati. Siapa suruh dia menyelak. Mudah-mudahan dia kena marah kali ini, dan setelah itu mereka bisa segera ke rumahnya.

Namun...ya ampun..apa lagi sih yang akan dilakukan Yesus sekarang? Ayolah Guru..selesaikan segera, dan mari kita pergi. Yairus mulai sedikit tidak sabar. Namun Yesus sepertinya memang bukan dari planet ini. Ya, aku rasa demikian. Begitu pikirnya sambil menunggu movement selanjutnya dari Yesus.

Markus 5 : 33 – 34 Perempuan itu, yang menjadi takut dan gemetar ketika mengetahui apa yang telah terjadi atas dirinya, tampil dan tersungkur di depan Yesus dan dengan tulus memberitahukan segala sesuatu kepada-Nya. Maka kata-Nya kepada perempuan itu: "Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu!"

Ya ampuunnn..Yairus benar-benar gelisah sekarang. Setiap detik sangat berharga bagi putrinya. Common Jesus...what now? Finished? Ayolah...oke sekarang Engkau sudah menyelesaikan urusanMu dengan ibu ini kan? Sekarang..bagianku. Mari Tuhan...mari kita berjalan...my business in at stake!! Itu semua ada di dalam hatinya. Ia bergumul dan benar-benar tidak tenang sekarang.

Tiba-tiba...datanglah utusan dari rumahnya dengan terengah-engah di hadapannya dan berkata,"Anakmu sudah mati, apa perlunya lagi engkau menyusah-nyusahkan Guru?" ....lemaslah Yairus mendengar hal itu. Hatinya langsung menjerit namun suaranya tidak keluar...”Ya Tuhan!!!! Engkau lihat apa yang telah Engkau lakukan? Selesailah sudah semuanya. Sudahlah, tidak ada lagi perlunya aku disini.” Air matanya langsung menetes dari kedua matanya yang memang sudah lelah sejak beberapa hari ini. Jantungnya pun seperti ikut berhenti berdetak demi putri kesayangannya itu sudah menutup mata untuk selamanya. Dipandangnya Guru dengan mata menghujam dan sedikit menuduh...”Ini semua karena Engkau menganggap sepi permintaanku. Lihat apa yang sudah Engkau lakukan terhadap anakku.”

Namun Yesus tahu betul apa yang ada dalam hatinya itu. Ia memegang bahunya dan berkata,”Jangan takut...percaya saja.” Yairus pun menatapnya tak berdaya. Baiklah...memang sudah tidak ada yang bisa aku kerjakan sekarang selain daripada itu. Aku hanya akan percaya kepadaNya dan menantikan apa yang akan Ia perbuat sekarang. Aku hanya berharap bahwa Ia tahu apa yang sedang Ia lakukan. Dan ia pun tetap mengiring Yesus untuk berjalan menuju ke rumahnya.

Sesampainya di rumahnya, mereka menemukan semua orang sedang meratap dan menangisi kematian anaknya. Jelaslah sudah bahwa anak itu sudah mati. Entahlah apa yang akan dilakukan Yesus pada anak itu, tapi ia hanya belajar untuk percaya kepadaNya seperti yang dimintanya barusan. Ia menarik nafas panjang dan berusaha membuang semua pikiran buruk di dalam hatinya.

Sementara itu Yesus memintanya untuk menyuruh semua orang yang meratap dan menangis itu untuk keluar dari ruangan putrinya itu, dan hanya mengijinkan beberapa orang saja untuk tetap berada di situ termasuk dia dan istrinya. Dan Yesus berkata,”Mengapa kalian ribut? Anak ini tidak mati, ia hanya sedang tidur saja.” Hatinya berdegup kencang. Mudah-mudahan Guru tahu apa yang ia katakan.

Namun jujur saja, ketika semua orang yang meratap itu keluar, ia mendapatkan kedamaian. Secara tiba-tiba pengharapannya timbul. Kini ia bisa memusatkan perhatiannya hanya kepada Guru yang ada di hadapannya ini. Ia tidak perduli dengan semua perkataan orang lain. Ia tidak membutuhkan itu semua. Yang ada di hadapannya kini sepertinya adalah satu-satunya Pribadi yang bisa memberikan jalan keluar baginya. Dan hanya itu yang ia butuhkan.

Markus 5: 41 Lalu dipegangNya tangan anak itu, katanya : “Talita kum” yang berarti : “Hai anak, Aku berkata kepadamu, bangunlah!”

Seketika itu juga anak itu bangkit berdiri dan berjalan, sebab umurnya sudah dua belas tahun.

Wooowwwwwwwww...hatinya seakan mau melompat. Matanya menatap dengan takjub dengan apa yang ia saksikan. Mulutnya menganga antara takjub dan girang luar biasa. Ia menangis tak tertahankan. Putrinya...itu putrinya...yang tadi sudah mati, kini ia bangkit dan hidup lagi. Ia benar-benar melompat kini memeluk anak tersebut.

Ia menatap Yesus dengan pandangan bercampur aduk, antara malu karena sudah meragukan dan menyalahkanNya dengan perasaan sukacita dan takjub atas apa yang Ia kerjakan barusan. Ya Tuhan...betapa rendahnya aku barusan hampir saja aku tidak mempercayaiMu.

Sementara Yesus dengan penuh kasih tersenyum kepadanya menenangkan hatinya sekaligus menyatakan bahwa Ia mengerti...Ia sangat mengerti dengan isi hatinya. Tapi dengan sangat ia memberi pesan untuk mereka semua tidak menceritakan apa yang baru saja terjadi, dan ia menyuruh mereka memberi anak itu makan.

Saudara, mungkin saat ini hidup anda juga sedang mengalami peristiwa seperti itu. Ketika kita berdoa untuk masalah-masalah kita yang belum terjawab, namun kita mendengar bagaimana orang-orang sekitar kita kok sepertinya doa mereka sudah terjawab lebih dahulu dan melaju dengan lancar, dan membuat kita berpikir-pikir apa yang sedang terjadi dengan hidup kita? Apa yang salah sehingga Tuhan tidak mengindahkan kita?

Kisah ini menjelaskan bahwa hal itu terjadi karena Ia memang punya maksud yang baik bagi kita. Ia tidak akan membiarkan kita begitu saja. Tapi sebaliknya, Ia sangat mengasihi kita, hanya saja Ia tahu betul apa yang sedang Ia kerjakan. Satu hal yang Ia minta adalah supaya kita tetap 'Percaya saja dan jangan takut!'. God bless you and enjoy your life in Christ.

 

By : Ps. Sariwati Goenawan – IFGF GISI Bandung

 

 
Designed by vonfio.de