Home Artikel Rohani Column By Sariwati I DON’T DESERVE IT
I DON’T DESERVE IT PDF Print E-mail
Written by sariwati   
Monday, 08 March 2010 21:22

Yesaya 53 : 3 - 5  Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kitapun dia tidak masuk hitungan. Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.

 

               Tiupan angin sepoi-sepoi menerpa wajahku. Rambutku yang pendek sedikit berkibar karenanya. Satu hal yang aku senang, aku melihat Tuhan Yesus duduk di sebelahku. TanganNya menggenggam tanganku yang tampak kecil dibandingkan tangan Tuhan. Ada kehangatan menjalar di hatiku. Rasanya sangat menyenangkan dan memberikan damai sejahtera yang luar biasa.

               Saat itu kelihatannya masih cukup pagi, tapi pantai tampak kosong . Tidak ada orang lain di sana. Laut berdebur perlahan dan ombaknya tidak terlalu besar. Suasananya sangat menyenangkan.

               Kemudian aku melihat tangan kanan Tuhan menunjuk ke tengah lautan, dan sekalipun sejak tadi aku memandang ke sana, tapi aku baru melihat kemudian bahwa di sana terdapat sebuah salib besar, menjulang dari dalam lautan.

               “Dulu..sewaktu Aku tergantung di sana, Aku sendiri merasa bahwa Aku tidak layak menerima semua itu. Tidak seharusnya Aku dihukum seperti itu. Mereka tidak menemukan sebuah kesalahanpun di dalam diriku yang membuat Aku harus disalibkan. Tapi toh mereka melakukannya, dan Aku menerimanya. Aku melakukannya tanpa sedikit keluhanpun keluar dari bibirKu karena Aku mengasihimu. Aku mengasihi semua orang. Aku mau menanggungnya supaya sekali dan selama-lamanya kamu dan semua orang yang percaya tidak perlu mengalami penghukuman itu lagi,”kataNya dengan suara yang lembut namun dalam maknanya. Aku cuma bisa memandangnya dengan tatapan sedih sekaligus mengagumi kasihNya yang luar biasa.

               “Apa yang kamu alami saat ini, Aku sudah mengalaminya lebih dulu. Tapi ingatlah, kalau kamu mengalami penghukuman karena kesalahanmu, itu adalah hal biasa dan sudah sepatutnya. Tapi kalau kamu mengalami cercaan, justru ketika engkau tidak bersalah, itulah yang namanya memikul salib,”katanya lagi sambil memandang kepada salib besar itu.

               Selebihnya aku hanya bisa mengangguk-angguk dan duduk terdiam di sebelahNya sambil terus menikmati pemandangan laut dan angin sepoi sepoi itu. Menikmati penghiburan dari Tuhan yang manis dan menenangkan hati.

               Apa yang baru saja saya ceritakan merupakan penglihatan yang saya dapat di hari Minggu kemarin di saat pujian dan penyembahan dinaikkan dalam satu ibadah.

               Saat itu saya datang dengan hati yang hancur, setelah melewati begitu banyak masalah yang berat dan meyakitkan. Tuhan tahu yang saya alami, tapi saya merasa perlu menceritakan perasaan saya dengan jujur kepadaNya.  Dan itulah yang saya lakukan hari itu.

               Dan saat saya menceritakannya, saya merasakan dekapan Tuhan yang hangat. Sambil bercucuran air mata, saya mulai melihat apa yang saya ceritakan tadi. Sebuah penghiburan ajaib. Sungguh memberikan kekuatan dalam diri saya.

               Teman, kalau hari ini engkau sedang mengalami kesedihan yang dalam, jangan ragu-ragu untuk datang dan menceritakannya secara pribadi kepadaNya. Ia pasti bersedia  mengulurkan tanganNya dan memberimu penghiburan. KasihNya benar-benar ajaib. Enjoy it.

By : Ps. Sariwati Goenawan – IFGF GISI BANDUNG

 
Designed by vonfio.de