| GOD HAS A PURPOSE FOR YOU TODAY |
|
|
|
| Written by sariwati |
| Tuesday, 17 November 2009 14:13 |
|
Yohanes 9 : 3 Jawab Yesus: "Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia.” Beberapa bulan yang lalu, saya bertemu dengan seorang ibu yang istimewa dalam pandangan saya. Kalau dilihat dari penampilannya, tidak ada yang terlalu istimewa untuk diceritakan. Saya melihat dia duduk dalam sebuah persekutuan wanita yang pada pagi itu mengundang saya untuk menyampaikan firman. Dia duduk di deretan paling depan, agak terpisah dari ibu-ibu yang lainnya. Saya katakan istimewa setelah saya melihat keberaniannya untuk maju ke depan, tepat setelah saya membagikan firman Tuhan pada hari itu. Dan dengan suara yang tergetar dan sedikit terbata-bata, dia mengeluarkan pernyataan yang cukup mengejutkan saya. Dia mengatakan betapa beratnya bagi dia untuk duduk sepanjang penyampaian firman, terlebih setelah dia mendengarkan penuturan saya tentang beberapa orang yang gara-gara menyerahkan hidup mereka pada penyembahan berhala untuk kemajuan ekonominya, orang-orang ini rela membiarkan salah satu anggota keluarganya dikuasai oleh kuasa kegelapan, dan mengalami keterbelakangan atau mungkin ada yang menjadi cacat. Sebetulnya, saya menceritakan hal ini karena kebetulan saya mengetahui ada beberapa orang yang memang mengalaminya. Orang tua jaman dahulu, karena ketidakmengertian mereka tentu saja, menganggap hal ini wajar untuk meminta kekayaan dan kemakmuran kepada ‘sesuatu’ yang tidak mereka kenal. Dan akibat yang harus mereka bayar merupakan sesuatu yang sangat mahal. Dan saya melihat bagaimana akhirnya anak-anak mereka biasanya yang menjadi korban. Tapi tentu saja apa yang saya ceritakan tadi bukan artinya menuduh bahwa setiap orang yang mempunyai anak yang cacat itu artinya bahwa mereka semua telah melakukan hal yang sama. Karena memang tidak seperti itu keadaannya. Dan dalam firman yang saya bawakan saya sudah menjelaskan demikian. Bukan kebetulan kalau pada hari itu, ternyata ibu ini ada, duduk di antara mereka dan mendengarkan firman yang sepertinya justru sudah menjadi beban beliau selama bertahun-tahun. Ternyata ibu ini memiliki seorang anak perempuan yang lahir dalam keadaan cacat. Tentu tidak mudah bagi dia menghadapi situasi ini. Bahkan ia sendiri berdoa dan berdoa meminta kemurahan Tuhan untuk menyembuhkan anak ini, tapi sayangnya sampai hari ini belum ada mukjizat seperti yang dia harapkan. Seringkali ia berusaha untuk menghindari pertemuan-pertemuan dengan orang lain karena dia merasa tidak sanggup untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan orang atau tatapan mereka ketika dia berjalan mendorong kursi roda anaknya. Dan seringkali pula ia bertanya-tanya kepada Tuhan, dosa apa sebetulnya yang sudah ia atau leluhurnya lakukan sehingga anaknya harus mengalami hal ini. Saya dapat merasakan betapa beratnya hal itu bagi ibu ini. Apalagi anaknya itu seorang perempuan, tentu dia juga memikirkan bagaimana dengan masa depan anak itu. Tepat pada hari itu, ketika ia mendengar firman itu, ia maju dengan perasaan tergetar mengatakan bahwa ia sangat sedih dan merasa tersinggung dengan apa yang ia dengar. Ia mengatakan bahwa ia memang memiliki seorang anak yang cacat, tapi bukan artinya ia menyembah berhala. Selama ini ia berusaha menyelidiki hatinya dan leluhurnya, mencari tahu apakah sekiranya ada dosa di dalam kehidupan mereka sehingga menimpa anak yang dikasihinya itu. Dan ia mengatakan bahwa ia mendapatkan jawaban dari Tuhan melalui sebuah ayat di dalam Yohanes 9 : 1 - 3 Waktu Yesus sedang lewat, Ia melihat seorang yang buta sejak lahirnya. Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: "Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?" Jawab Yesus: "Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia.” Ayat-ayat inilah yang menguatkan dia selama ini dalam menghadapi beban hidupnya ini. Setelah sekian lama ia bertanya dan memeriksa dirinya sendiri, ayat ini menjadi jawaban yang sedikit melegakan dia. Dan pada saat itu dia katakan bahwa dia tidak mau mendengar kalau seandainya ada yang menuduh dia telah melakukan satu dosa dalam kehidupannya. Sambil menangis ia kembali duduk. Hati saya sendiri tergetar ketika mendengar penuturannya, dan sambil mengikuti penutup doa hari itu, saya juga memeriksanya dalam hati saya. ‘Tuhan, apa yang seharusnya kusampaikan sudah kusampaikan. Itulah firman Tuhan, dan bukan kehendak hati saya. Tapi kenapa akhirnya begini ya?’ saya sendiri sangat berempati terhadap ibu itu. Roh Kudus berbisik di hati saya seketika itu juga mengatakan,’Aku sengaja melakukannya. Aku sengaja membuatnya merasa terdesak dengan semua yang dia dengar hari ini, supaya dia sendiri keluar dari kurungan yang dia buat sendiri dalam hidupnya. Ia sudah tahu jawabannya tapi ia tidak pernah mau hidup dengan jawaban itu.’ Saya sedikit terkejut mendengar hal ini, tapi sekaligus melegakan hati. Karena itu, selesai persekutuan itu, saya segera menghampiri ibu tersebut. Kentara sekali kalau ia sendiri sangat tidak enak dengan tindakannya tadi itu. Tapi saya tersenyum memberikan ketenangan kepadanya dan mulai menerangkan maksud firman tadi yang sebenernya. Saya juga menyampaikan apa yang Roh Kudus katakan tentang kejadian ini. Ia terheran memandang saya. Saya menjelaskan lebih lanjut kepadanya. “Bu, kalau bukan Tuhan yang menyuruh saya mengeluarkan contoh tadi, pasti tidak akan keluar dari mulut saya, karena contoh tadi tidak ada dalam catatan saya. Dan Tuhan sengaja mendesak perasaan Ibu dengan kejadian tadi justru supaya ibu keluar dari kurungan persembunyian yang ibu buat sendiri selama ini. Dan Ibu tahu kenapa ia membiarkan hal tadi terjadi? Karena persis seperti yang Ibu katakan sendiri, bahwa kondisi anak perempuan ibu adalah untuk jadi kemuliaan bagi nama Tuhan, tepat seperti itulah yang Tuhan inginkan. “ Saya berhenti sejenak sambil memperhatikan bagaimana ibu ini menangis. “Tapi selama ini, Ibu malah bersembunyi di dalam tembok yang ibu buat. Bagaimana bisa kemuliaan Tuhan dinyatakan kalau Ibu sendiri tidak mau membukanya dan menceritakan kepada banyak orang mengenai hal ini. Doa-doa Ibu bukan tidak dijawab oleh Tuhan, tapi Dia menjawab dengan cara yang berbeda. Dia menjawabnya dengan memberikan kekuatan kepada Ibu. Dan melalui kejadian hari ini, sebetulnya ada terobosan baru yang Ibu tidak sadari. Ia sudah membuat Ibu keluar dari kurungan itu, dan mulai menyatakan iman yang Ibu miliki tentang perkara ini. Ibu mulai menyaksikannya walau dengan cara yang tidak lazim.” Ibu itu menangis dan tertunduk, lalu akhirnya dia juga minta maaf karena kejadian hari itu. Tapi saya sama sekali tidak merasa marah atau tertuduh apapun. Saya mendoakan dia, dan saya memeluknya hari itu. Saya mendapatkan saudara yang baru pada hari itu. Dan dengan sukacita sayapun melangkah bercakap-cakap dengan beberapa yang lain. Mereka semuanya juga menyadari bahwa hari itu ada sesuatu yang luar biasa terjadi, dan semuanya memang diatur oleh Tuhan sendiri. Bersyukur kepada Tuhan. Saudaraku, kalau seandainya pada saat engkau membaca artikel ini juga dalam situasi yang sama, maka ketahuilah bahwa Allah turut bekerja dalam segala perkara, untuk mendatangkan kebaikan bagi anda dan saya melalui perkara itu. Jadi, mengapa harus marah atau kecewa karena satu kondisi? Terimalah dengan sukacita. Tahukah anda bahwa ucapan syukur kita akan membatalkan banyak hal buruk dalam hidup kita. Sebaliknya akan digantikan dengan sukacita dan damai sejahtera yang melampaui segala akal. Jangan buru-buru menghakimi atau menyalahkan sekitar. Terimalah dengan segala kerendahan hati. Amin. By : Sariwati Goenawan – IFGF GISI Bandung |





