Home Artikel Rohani Column By Sariwati EVERYBODY NEEDS LOVE
EVERYBODY NEEDS LOVE PDF Print E-mail
Written by sariwati   
Thursday, 19 April 2012 11:59

Yohanes 8 : 11 …Lalu kata Yesus: "Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang."

 

Sesuatu yang dipaksakan pasti hasilnya akan berbeda dibandingkan sebaliknya. Begitu juga ketika anak saya ‘dipaksa’ belajar, ditambah dengan sebuah ancaman dan peringatan bahwa jika tidak belajar sungguh-sungguh maka bisa-bisa dia tidak naik kelas. Akibatnya, anak-anak kami akan belajar dengan berat hati. Hasilnya memang dia bisa mengerjakan setiap ulangannya, tapi mereka tidak merasa suka cita. Dan gara-gara ancaman-ancaman seperti inilah para siswa akan menggunakan banyak cara supaya bisa naik kelas. Mencontek, bekerja sama dengan teman, cari kunci jawaban, atau apapun caranya…asal tidak ketahuan, yang penting bisa naik kelas.

Berbeda sekali ketika mereka mulai menikmati setiap mata pelajaran itu dan menyukainya. Apalagi dengan diberikan pengertian yang benar tanpa ancaman apapun, cara mereka melakukannya sangat berbeda sekarang. Sukacita itu membuat segala beban itu menjadi lebih ringan. Kini, mata pelajaran yang tadinya tampak sulit di matanya menjadi lebih mudah karena cara mereka mengerjakannya sangat berbeda. Dan karena menjadi lebih mudah, tentu mereka tidak perlu lagi berbuat curang, karena toh kini semuanya sudah bisa mereka atasi dengan sangat baik.

Mengerjakan sesuatu dibawah tekanan dan ancaman tentu akan memberikan hasil yang berbeda dibandingkan jika melakukannya dengan rasa kasih dan sukacita. Apa yang tadinya terasa berat, kini menjadi relatif lebih mudah.

Hukum Taurat diberikan dengan penuh tekanan dan ancaman. Jika kita tidak bisa melakukannya sesuai dengan hukum yang berlaku, maka segala ancaman pun berlaku. Dan siapapun tidak akan tahan dengan segala akibat dari hukum taurat tersebut. Dan akibatnya, hukum taurat ini membuat setiap orang akan mencari cara supaya tidak menanggung akibatnya.

Bagus kalau mereka memang bisa menghindari dosa itu. Tapi yang lebih parah, mereka tahu bahwa mereka bersalah, tapi mereka berusaha menutupinya dengan dosa lain supaya tidak ketahuan. Artinya, mereka melaksanakan semua hukum itu bukan karena mereka mengasihi Allah, tapi hanya karena mereka ‘takut’ akan akibat dari kesalahan yang harus mereka tanggung jika ketahuan.

Aku yakin, yang ketahuan akan lebih sedikit dari yang tidak ketahuan. Diam-diam tentu mereka semua pernah melanggarnya. Termasuk para akhli agama itu juga, yang katanya memegang hukum itu dan melaksanakan penghukumannya. Mereka sendiri bisa jadi banyak kali melanggarnya, tapi mereka diam saja supaya tidak menanggung akibat dari pelanggaran itu.

Tapi sebenarnya, siapa yang mau kita bohongi itu? Bukankah Dia itu adalah Allah yang maha tahu? Bukankah Dia itu Allah pemimpin segala alam semesta ini?

Apakah yang tertutup dan tidak terbuka dihadapanNya? Apakah yang terselubung dan tidak terungkap dihadapanNya? Jadi siapa yang hendak kita bohongi sebenarnya? Siapapun tidak akan bisa menghindari mataNya yang senantiasa berjalan mencari-cari kita setiap waktu. Jadi, mungkinkah kita terhindar dari semua akibat pelanggaran itu?

Tidak akan ada yang bisa menghindarinya. Setiap dosa akan dihukum. Dan akibat dosa adalah maut. Itulah yang sudah dikatakannya. Tidak ada dosa besar atau dosa kecil. Dan ketika Ia mengatakan bahwa kita harus mentaati seluruh hukum taurat, artinya satu pelanggaran saja akan tetap mengakibatkan hukuman bagi kita. Tidak akan ada yang bisa menghindarinya. Wow..betapa beratnya.

Itulah sebabnya, semakin diterapkan, semakin banyak dari mereka akan mencari celah supaya tidak ketahuan. Mereka menjalankan semua hukum ini bukan karena mereka mengasihi Allah, tapi lebih karena ‘takut’ akan akibatnya.

Aku percaya, hal ini juga yang terjadi di pagi itu, ketika ada seorang wanita yang ketahuan berbuat zinah. (Yohanes 8 : 1 – 11). Mungkin ini bukan yang pertama kali dia lakukan, hanya saja selama ini tidak pernah ketahuan. Bagi wanita ini, selama tidak ketahuan tentu tidak menjadi masalah.

Tapi hari itu sungguh naas baginya. Ia tertangkap basah. Sang pria sudah melarikan diri terlebih dahulu sehingga tidak bersama-sama dengan dia diarak ke seluruh desa tempat ia tinggal. Dengan pakaian yang masih berantakan, rambut terurai tak karuan, rasanya ia sudah tidak punya muka lagi untuk berhadapan dengan orang-orang sekitar. Di dalam hati, yang ingin ia lakukan adalah segera bersembunyi ke dalam bumi supaya tidak pernah bertemu lagi dengan orang-orang ini.

Selama ini saja, meskipun tidak pernah tertangkap basah seperti ini, rasa bersalah dalam hatinya sangat besar akan dosa ini. Ia berusaha dan berusaha untuk menghentikan dosa ini. Tapi masalahnya, ia merasa sulit untuk menghindarinya. Ya, ia memang perlu uang juga, itulah sebabnya ia melakukannya. Tapi selain itu, ia juga membutuhkan kasih dan perhatian dari orang-orang sekitarnya. Tapi sampai hari itu, ia belum pernah menemukan yang benar-benar bisa memuaskan kebutuhannya itu.

Di hari yang tidak tepat itu, ia hanya bisa menangis dalam hati. Air matanya sudah kering sejak lama. Ia tidak bisa menangis lagi untuk hari ini. Ia tidak punya waktu untuk itu. Apalagi sekarang, ketika ia tertangkap basah melakukannya,  ia hanya bisa pasrah menantikan hukuman apa yang akan ditimpakan kepadanya. Ia sudah berusaha menghindarinya sejak lama. Kalau dihitung, seharusnya ia memang sudah mati sejak lama, karena tidak akan pernah ia sanggup menerima lemparan satu batupun di tubuhnya yang lemah itu. Dan kalau hari ini ia akhirnya haru menghadapinya, ia sudah tidak perduli lagi. Ia tahu, satu hari hal ini akan terjadi juga.

Yah..ia menunggu dan menunggu saat penghukuman itu diberlakukan atasnya. Apalagi sedari tadi ia mendengar bagaimana para pemimpin agama itu sudah meneriakan hukuman itu. ‘Lempari dia dengan batu…!! Itulah hukum yang berlaku menurut hukum Musa.’ Lemaslah seluruh persendiannya. Apa yang ia takuti dan ia hindari selama ini akhirnya terjadi juga. Mau tidak mau ia harus mempersiapkan diri menghadapi hujaman batu demi batu itu di tubuhnya. Tapi ia tahu kalau ia bersalah. Jadi ia hanya bisa pasrah menantikan hukuman itu.

Dan dengan wajah tertunduk sangat dalam, ia hanya mengikuti saja kemanapun mereka mengaraknya. Ia tidak tahu apa rencana mereka. Dengan terseok-seok ia berjalan setengah berlari tepatnya, karena mereka menyeretnya dengan kejam dan tak berperasaan.

Tepat di satu sudut kota, ia tersungkur di depan Pria ini, seorang yang ia sudah sering dengar namaNya disebutkan orang. Yesus.  Tapi ia belum pernah bertemu denganNya secara pribadi.

Ia tahu reputasi Yesus. Ia sudah sering mendengar para tetangganya bercerita soal pria ini. Seorang yang baik dan sering melakukan mukjizat dan memberikan kesembuhan bagi banyak orang. ‘Oooh seandainya saja Ia juga bisa menolongku…ia merintih dalan hatinya. Aku tidak berharap banyak. Aku hanya minta supaya Ia bisa melepaskanku dari semua hukuman yang harus aku alami ini, karena aku yakin kalau aku bisa mati gara-gara batu-batu itu. Aku tidak akan tahan menghadapinya. Seandainya mukjizat itu bisa aku dapatkan, maka aku hanya minta supaya Ia bisa mengubahkan nasibku dan hidupku. Sekali untuk selamanya….’itulah yang muncul dalam hatinya, sekaligus yang menjadi doanya ketika ia dipertemukan dengan Yesus, yang belum pernah Ia kenal sebelumnya.

Kata-kata Yesus hari itu tidak keras seperti orang-orang yang menuduhnya hari itu, tapi hatinya bagai disayat pembilu mendengarnya, apalagi jika dia mengingat dosa-dosa yang ada di dalam kehidupannya. Ia menyadari betapa kotor dirinya. Muncul rasa tidak layak untuk mengharapkan pertolongan dari Pribadi yang ada di hadapannya ketika itu. ‘Aduuhh siapalah diriku ini?...’pikirnya.

"Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu." Itu yang Ia katakan kepada mereka semua. Waaahh..betapa penuh wibawa suaraNya itu. Wanita ini tercengang mendengarnya. Ia menyadari betapa besar dosanya, tapi ia juga menantikan reaksi dari orang-orang di sekitarnya. Kira-kira, siapa diantara mereka yang sungguh-sungguh merasa tidak berdosa ya? Siapa yang akan memulai hukuman bagiku ini? Yang paling tuakah? Atau yang muda? Aaahhh..ia tidak bisa memikirkan hal itu saat ini. Nasibnya sedang ditentukan oleh jawaban dari pertanyaan tadi. Dan akhirnya ia hanya bisa menunduk sambil menantikan dengan penuh tanda tanya.

Begitu kencangnya jantungnya berdebar, dan betapa eratnya ia menutup matanya, tubuhnya terguncang karena takut. Ia menyiapkan hatinya untuk bersiap menerima setiap lemparan batu yang akan dilayangkan kepada dirinya. Lamaaa ia menunggu..dan suasanya menjadi hening tiba-tiba. Ia terheran merasakan perubahan suasana itu, lalu ia menoleh ke belakang, mencari-cari orang-orang yang tadi menyeretnya di jalanan. Dengan sedikit takut-takut ia mengangkat kepalanya, tapi kemudian ia takjub karena orang-orang itu sudah tidak ada. Mereka semua pergi tak berbekas. Tidak ada kata pamit atau ucapan selamat tinggal, tidak ada satupun yang tersisa.

Dan kini..hanya ada dia dan Yesus…sang Penyelamat. My Hero. Ingin rasanya ia memeluk kakiNya, tapi ia merasa tidak layak. Ia menyadari siapa dirinya di hadapan Pribadi ini. Akhirnya ia hanya terdiam menantikan apa yang akan dikatakan Yesus selanjutnya.

Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya: "Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?"  Jawabnya: "Tidak ada, Tuhan." Lalu kata Yesus: "Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang."

‘Aku pun….tidak..menghukum..engkau….’…perempuan itu mengulangi perkataan itu di dalam hatinya secara perlahan, seakan-akan berusaha mencerna apa yang baru saja dikatakanNya. Sungguhkah itu? Benarkahhhh??

Waaahhhhhh…ia ingin melompat rasanya. Benarkahh??? Aku diampuni? Akuuu???? Diampuni??? Woowwwww….!!!! Yesssss!!!!

Itu adalah segalanya yang ia perlukan. Ia hanya ingin mendengar kalimat itu. Ia menyadari bahwa ia sangat membutuhkan pengampunan. Dan seketika itu juga di dalam hatinya sepertinya ada bungi PLONG!!!...ada kelepasan yang luar biasa.

Dan kalimat selanjutnya yang ia dengar adalah suatu komitmen yang akan ia lakukan setelah ini. Ya, Tuhan..aku tidak akan berbuat dosa lagi sejak hari ini. Setelah apa yang Kaulakukan buat aku, rasanya  keterlaluan sekali kalau aku masih terus menerus berada di dalam dosa. Aku mau berubah..aku pasti berubah. Kasih yang Kautunjukkan kepadaku hari ini begitu besar. Bahkan Engkau mau membelaku di depan semua pendakwaku barusan, hal itu tidak akan pernah aku lupakan.

Ya…kasih yang sebesar itu hanya bisa kudapatkan di dalam diriMu Tuhan. Aku belum pernah menemukannya di tempat yang lain. Aku tidak akan pernah menyesali ada hari ini. Ini pasti rencana Tuhan yang ajaib bagi hidupku. Terimasih Tuhan.

Ketika aku ditangkap dan diseret barusan, diadili di depan semua orang, aku merasa bahwa inilah akhir kehidupanku. Setelah ini, entah bagaimana nasibku. Untuk bertemu dengan orang sekitarku saja rasanya aku tidak akan sanggup.

Tapi Tuhan, engkau memberiku pengharapan yang baru. Engkau mengubahkan aku sedemikian. Sungguh Engkau memberiku satu kekuatan yang baru, keyakinan yang baru. Kini aku bisa menegakkan kepalaku ketika berjalan, karena aku bukannya aku lagi, tapi Yesus hidup di dalamku, dan itulah yang mengubahkan kehidupanku menjadi baru.

Ya…inilah yang kuperlukan selama ini. Kasih yang sejati, yang memberiku cara hidup yang baru. Terimakasih Tuhan…You are so GREEEEAAATTT. I love You Lord.

By : Ps. Sariwati Goenawan – IFGF GISI Bandung

 

 
Designed by vonfio.de