Home Artikel Rohani Column By Sariwati BISA JADI KITA SALAH BERDOA
BISA JADI KITA SALAH BERDOA PDF Print E-mail
Written by sariwati   
Thursday, 29 December 2011 09:05

Yakobus 4 : 3 ‘Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu.’

Apa jadinya ya kira-kira kalau Tuhan selalu menjawab ‘YA’ untuk semua permintaan kita? Apakah semua itu pasti menyenangkan dan baik?

Saya mengajak anda untuk merenungkannya sejenak hari ini, karena banyak dari kita berharap bahwa Dia akan selalu mengabulkan semua yang kita harapkan dan kita minta, padahal belum tentu kita mengerti apa yang kita minta itu.

Bisa jadi saat anda membaca tulisan ini, di dalam hati anda sedang bergumul dengan Tuhan akan suatu permohonan yang sudah lama anda doakan namun belum juga anda dapatkan. Dan selama itu pula anda bertanya-tanya ‘mengapa Tuhan?’.

Tapi pernahkah anda mencoba untuk merenungkan semuanya dengan lebih jernih, sehingga anda sendiri akan mengerti sebuah jawaban yang lebih jelas akan apa yang sedang anda doakan tersebut? Karena jangan-jangan, persoalannya bukan terletak pada Tuhan, tapi justru karena apa yang anda doakan tersebut memang tidak berkenan dengan kehendak Tuhan.

‘Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu.’ (Yakobus 4 : 3)

Nah, bisa jadi selama ini kita salah berdoa. Hmmm...apanya yang salah? Apakah cara bicaranya? Atau salah menggunakan password-nya? ...ternyata bukan itu.

Yang menjadi kesalahan adalah : Karena kita seringkali tidak mengerti apa yang kita minta.

Apa yang kita inginkan ternyata belum tentu semuanya baik bagi kita. Salah-salah malah menjadi jerat dalam hidup kita. Dan siapa yang sebenarnya paling tahu apa yang akan terjadi di masa yang akan datang? Kitakah? Atau Tuhan sang pencipta? Tentu saja Dia, Tuhan sang pencipta itu.

Dan karena Dia juga yang memegang hari-hari kita, maka Dia akan selalu berusah meng-intervensi kehidupan kita. Tentu saja hal itu akan termasuk di dalam menjawab doa-doa kita.

Hmm...kalau demikian, maka pertanyaan yang seringkali muncul adalah, bagaimana caranya kita bisa tahu apakah permintaan kita itu sesuai dengan kehendak Tuhan atau tidak? Dan apakah salah kalau kita terus menerus meminta dan mendoakan sesuatu untuk waktu yang lama, sekalipun kita melihat bagaimana Tuhan sepertinya tidak memberikan jawaban untuk permintaan itu?

Saudaraku, di dalam penantian kita akan sebuah jawaban doa, disitulah terletak proses pengujian itu. Ketika Tuhan belum menjawab doa-doa kita,  maka kita akan berada di sebuah masa, dimana justru kita akan mengalami transformasi bersama Dia.

Kalau kita ingin mengetahui, apakah doa kita ini sesuai dengan kehendak Tuhan atau tidak, maka sebetulnya kita bisa menemukannya di dalam hati kita sendiri. Dalam waktu penantian itu, jika kita merasakan bahwa ‘beban’ itu semakin terasa, dan membuat kita ingin terus mendoakannya sekalipun kelihatannya mustahil, maka bisa jadi memang permintaan itu sesuai dengan kehendak Tuhan. Jika hal ini yang terjadi, maka jangan berhenti untuk mendoakannya. Dan ketika kita terus berdoa, kita bisa melihat bahwa kebutuhan untuk jawaban doa itu semakin kuat terasa, itulah saatnya untuk makin bersungguh-sungguh berharap kepada Tuhan.

Tapi sebaliknya, jika apa yang kita doakan hari ini, yang kelihatannya begitu berat menekan pada hari ini, tapi sejalan dengan waktu, ternyata beban itu sepertinya menguap begitu saja sehingga pada akhirnya kita tidak lagi merasakan perlunya bagi kita untuk mendoakan hal itu, maka bisa jadi bahwa kebutuhan itu hanya keinginan kita saja. Karena ketika diuji dengan waktu, beban itu menguap begitu saja dan tidak ada lagi urgensi nya bagi kita.

Sebaliknya, jika ada permintaan dalam hati kita yang menekan demikian kuat, namun ketika didoakan ternyata jawaban Tuhan tidak kunjung datang, dan pada akhirnya malah membuat kita marah dan frustrasi, dan menganggap bahwa Tuhan tidak adil atau bahkan dengan teganya menyimpulkan bahwa Tuhan itu mati dan tidak pernah ada, maka itu waktunya untuk kita mulai menguji diri kita, jangan-jangan...permintaan itu bukan sesuatu yang baik dan sesuai dengan kehendakNya, malah akan membuat hidup kita menjadi buruk dan menjerat kita untuk melakukan dosa pada akhirnya.

Jadi, bagaimana sebetulnya cara berdoa dan menantikan jawaban Tuhan itu?

Berdasarkan pengalaman saya bersama Tuhan, saya ingin membagikan apa yang pernah saya alami dengan tuntunan firman Tuhan sendiri. Namun perlu saya ingatkan bahwa ini bukanlah langkah-langkah baku yang sama bagi setiap orang. Anda mungkin akan memiliki pengalaman yang berbeda, dan memang tidak perlu sama. Namun bisa anda pelajari untuk menjadi bahan acuan saja.

 

Beberapa hal yang anda butuhkan ketika berdoa untuk kebutuhan anda adalah :

1. IMAN

Di atas segalanya, kita memang perlu iman. Tidak mungkin kita datang dan bisa meminta sesuatu kepadaNya tanpa iman. Iman adalah mata uang  yang Tuhan minta dari kita.

Ibrani 11 : 6 Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.

Jangan terburu-buru berpindah dari point ini.

Mungkin anda akan mengatakan bahwa ‘ooo saya punya iman...tapi.....’

Iman yang ingin saya sampaikan di sini bukan soal bagaimana anda meyakini bahwa doa anda pasti dijawab. Tapi iman yang saya mau bagikan adalah soal keyakinan kita, bahwa :

a. Tuhan itu memang hidup dan nyata dalam hidup kita, dan bahwa

b. Tuhan itu memang Raja dan Tuhan dalam hidup kita, dan bahwa

c. Tuhan itu memang menyayangi kita.

Okay..anda akan berkata bahwa itu semua anda sudah tahu. Nah...jika demikian, mengapa anda masih meragukan setiap jawaban doa anda?

Oooo....(anda merasa bingung?)

Coba saya jabarkan secara perlahan.

Jika anda merasa yakin bahwa Tuhan memang mengasihi anda, maka pastilah anda akan mengerti bahwa rasa sayangNya itu akan Dia ekspresikan salah satunya adalah dengan memenuhi apa yang anda minta.

Persis seperti Bapa yang sayang pada anaknya, tentu Dia juga akan melakukan hal yang serupa. Namun yang menjadi masalah adalah, seorang Bapa yang baik juga akan selalu mengkaji ulang permintaan anaknya itu. Apakah keinginannya itu akan mendatangkan kebaikan baginya? Atau malah sebaliknya, akan merusak dan membahayakannya? Jika memang demikian, tentunya sebagai Bapa yang menyayangi anaknya, maka ia juga bisa untuk tidak  memenuhinya, dan berusaha mencegah segala hal yang buruk yang mungkin akan menimpanya karena keinginannya tersebut.

Atau Ia bisa menunda jawabannya sampai Ia rasa anda memang siap untuk hal tersebut. Jangan lupa, Ia adalah Bapa yang sangat bijak, jadi pasti Ia sangat tahu kapan waktu yang paling tepat untuk kita semua.

Apakah anda cukup paham dengan hal ini?

 

2. MENGUJI KEMBALI PERMINTAAN TERSEBUT

Hal ini yang sering saya lakukan ketika ada sebuah doa yang sepertinya lama tidak dijawab oleh Tuhan. Saya akan mulai menguji kembali doa tersebut, apakah hal tersebut memang suatu doa yang akan membangun hidup saya dan orang-orang disekitar saya? Atau malah sebaliknya, justru akan membuat banyak orang merasa terganggu? Apakah jawabannya akan membuat banyak pertobatan, atau malah akan menyandungi banyak orang?

Dan yang tentunya sering terjadi adalah melalui pengujian ini juga saya belajar bahwa seiring dengan berjalannya waktu, saya sering menemukan bahwa ternyata saya memang tidak benar-benar menginginkan atau membutuhkan apa yang saya minta tersebut. Kedengarannya memang lucu, tapi itulah tepatnya yang terjadi.

 

3.  MENGUBAH HAL YANG KITA MINTA MELALUI PERSPEKTIF YANG BERBEDA

Waaahhh..terdengarnya sulit. Yup..memang, tapi coba saya terjemahkan melalui sebuah contoh :

Ada seorang Ibu yang begitu ingin untuk selalu tampil awet muda dan cantik, dengan harapan ia akan selalu dicintai suaminya. Ia selalu merasa tidak yakin dengan cinta suaminya kepadanya. Ia selalu khawatir bahwa suaminya akan meninggalkannya jika ia tidak tampil cantik dan menarik.

Suatu kali, ia mengalami kecelakaan yang menyebabkan mukanya hancur. Sang dokter menyarankan ia untuk melakukan operasi plastik seperlunya untuk bagian-bagian wajah yang rusak, namun ia mempunyai ide yang berbeda. Kesempatan itu ia gunakan untuk memenuhi impiannya selama ini. Ia mengubah wajahnya menjadi seperti wanita cantik yang ia dambakan. Dan jadilah demikian.

Sepulang dari rumah sakit, dengan keyakinan yang penuh akan penampilan barunya ia pulang dan menemui suaminya. Namun apa yang terjadi?

Suaminya tidak mengenalinya. Meskipun berulang kali wanita ini berusaha menjelaskan siapa dirinya, suaminya tidak juga mau mempercayai dan menerimanya. Bahkan dengan tegas suaminya mengatakan bahwa ia hanya mencintai istrinya yang ia nikahi dulu dengan penampilannya selama ini, dan bukan dengan wajah barunya ini. Sang istri sangat terkejut dan merasa sangat menyesal dengan apa yang sudah ia lakukan. Ternyata, apa yang ia anggap baik itu bukanlah yang bisa mempertahankan cinta suaminya, tapi malah kebalikannya yang terjadi.

Apakah anda belajar sesuatu dari hal ini ? Jadi, mengapa kita tidak belajar untuk mecoba mengubah perspektif kita lebih dahulu sebelum akhirnya kita minta sesuatu dari Tuhan?

Sobat, mengajukan permintaan itu mudah. Dan bagi Tuhan, untuk menjawabnya pun sangat mudah. Semudah membalikkan telapak tangan. Tapi sangat sulit untuk memperbaiki sesuatu yang terganggu akibat dari permintaan kita yang salah. Jadi..benarlah kalau kita diajarkan untuk tetap mengucap syukur dalam keadaan apapun juga, karena Tuhan memang selalu tahu apa yang terbaik bagi kita. Benar demikian? Amin.

By : Ps. Sariwati Goenawan – IFGF GISI Bandung

 

Last Updated on Thursday, 29 December 2011 09:24
 
Designed by vonfio.de