Home Artikel Rohani Column By Sariwati AKU PERCAYA DIA SANGGUP MELAKUKANNYA
AKU PERCAYA DIA SANGGUP MELAKUKANNYA PDF Print E-mail
Written by sariwati   
Tuesday, 31 July 2012 08:59

Filipi 4:6 Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.

 

'Semakin aku memperjuangkannya sepertinya semakin tidak ada artinya. Segala yang kubangun dan kuupayakan itu akhirnya runtuh hanya dengan satu sentuhan kecil. Terasa sangat menyakitkan. Hatiku benar-benar tidak tahan dengan semua ini. Mengapa Tuhan ijinkan aku mengalaminya? Apakah Tuhan tidak memperhatikanku?

Setiap hari aku mengalami hal yang sama terus menerus. Dia mengejekku dan menghinaku tiada henti, seakan-akan aku memang seorang yang tidak berguna di rumah ini. Aku menahan hatiku dan aku tetap berjuang untuk tidak memperlihatkan isi hatiku kepada siapapun. Dan aku sendiri tidak mau menyerah sebenarnya.

Tapi siapa yang bisa tahan dengan semuanya ini? Lirikan matanya menatapnya dengan kebencian dan penuh ejekan yang sangat merendahkan. Mulutnya menyeringai dengan senyuman yang sinis dan penuh dengan ucapan-ucapan yang menghujam. Belum lagi sepertinya dia mendemonstrasikan tindakan yang berlebihan di dalam rumahnya itu. Aduuhh sakit sekali rasanya. Terkadang aku seperti tidak ada di hadapannya. Ia tidak menghiraukanku ketika aku berbicara atau mencoba berkomunikasi dengannya. Entah aku harus bagaimana.'

Ia tahu bahwa suaminya tetap mengasihinya dan tidak berubah untuk hal itu. Tapi tetap saja ia merasakan kehampaan di dalam dirinya. Ia merasakan ada kekurangan yang tidak bisa diisi oleh semuanya itu. Ia merasa tidak lengkap dengan kenyataan bahwa ia mandul. Ia menginginkan memiliki keturunan. Sangat menginginkannya. Setiap kali ia merasakan hal itu, hatinya seperti disayat-sayat dan diperas. Begitu sedihnya sehingga ia tidak bisa berpikir atau berkata-kata lagi.

Penina, istri muda suaminya itu sangat beruntung. Ia memiliki anak-anak yang cantik dan ganteng dalam pandangannya. Ia mengucap syukur dengan keturunan yang bisa diberikan kepada suaminya itu. Tapi yang ia tidak tahan adalah melihat sikap Penina yang sangat kentara merendahkan dan ingin menekan hidupnya itu. Tuhan....rintihnya dalam hati. Mengapa Engkau tidak mengerti isi hatiku ini?

Setiap pagi, ketika ia bangun dari tidurnya, tidak lupa ia memberikan korban bagi Tuhan dalam saat teduhnya. Dan dengan adil, ia menyiapkan segala keperluan keluarganya, termasuk bagi Penina dan anak-anaknya. Tapi meskipun ia memiliki niat yang baik, selalu saja ia akan mendengar celaan dan kritikan yang pedas dari 'saingan'nya itu.

“Apa ini? Bubur ini terlalu encer..mana ada gizinya bagi anakku? Apa kamu tidak bisa memasak yang lebih baik? Jika memang tidak bisa, kamu tidak usah sok rajin membuatkannya untuk anakku. Biar aku mengerjakannya sendiri. Huh...apa sih yang kamu bisa? Sepertinya kamu hanya bisa memenuhi dunia ini, tapi tidak ada yang becus kamu kerjakan,” cerca Penina. Dan itu cuma salah satunya saja.

“Hanaaaaaa....apaan ini? Mengapa kamu suruh pembantu untuk memberikan air sepanas ini untuk mandi anakku. Apa kamu hendak merebusnya hidup-hidup? Sudahlah..kamu tidak usah mengurusi anak-anakku. Mereka kepunyaanku, biarlah mereka menjadi urusanku saja, Sedangkan kamu, lebih baik kamu masuk ke dalam kamarmu itu dan berdoa banyak-banyak, lakukan pertobatan dan introspeksi...jangan-jangan memang selama ini begitu besar dosamu sehingga Tuhan tidak memberikanmu keturunan.” Itu yang Penina katakan di lain waktu.

Dan ada banyaaaaaakk lagi yang lain yang memang sangat menyakitkan bagiku. Aduuhhh Tuhan, aku percaya kalau Engkau itu hidup dan sangat mengasihi aku. Tapi sepertinya kasihMu kepada Penina lebih besar daripada terhadapku. Kehidupanku sepertinya akan berakhir dengan cara yang sangat menyedihkan. Diiris oleh sembilu setiap hari dari waktu ke waktu dan entah sampai kapan.

Kalian tahu, waktu yang paling menyenangkan bagiku adalah setiap kali aku mendengar orang mengatakan mari kita pergi ke rumah Tuhan. Aaahh itu adalah saat yang paling berharga bagiku, karena di sana aku bisa dengan bebas meng-ekspresikan semua perasaan dan isi hatiku. Di rumah Tuhan, siapa yang akan menggangguku? Itu rumah terbaik yang pernah ada. Aku mengucap syukur untuk tempat itu.

Tapi Penina sepertinya tahu sekali cara untuk menyakitiku.

Setiap kali kami akan pergi ke Bait Allah, suamiku akan membagikan persembahan yang akan diberikan di tempat itu nanti. Dan meskipun aku istri pertamanya, tapi karena aku tidak memiliki anak, maka ia selalu memberiku hanya satu bagian. Sementara untuk Penina, ia mendapatkan dua bagian. Itu memang peraturan yang ada, dan aku menerimanya dengan sukacita. Tapi bagi Penina, ini merupakan kesempatan untuk terus menekanku. “Anak-anak...ini bagian kalian dari ayah. Terimalah dengan sukacita, karena ayahmu sangaaaatt mengasihi dan memperhatikan kalian,”serunya dengan sengaja mengeraskan suaranya supaya seluruh dunia bisa mendengarnya jika bisa. “Dan ini untuk kamu, Hana..ambillah satu bagian ini.”

Apakah tidak ada cara yang lebih baik bagi hidupnya? Aku cuma bisa mendesah dan mengeluh perlahan, tapi ia berusaha menahan hatinya supaya tidak mempengaruhi sukacitanya karena hendak pergi ke rumah Tuhan.

Di sepanjang perjalanan, keluarganya berceloteh panjang lebar. Khususnya ayah dan anak-anak itu. Mereka saling bercerita dan tertawa-tawa karena ada hal yang lucu bagi mereka. Bagi Elkana ini adalah saat yang berharga karena memang dia tidak punya terlalu banyak waktu untuk hal ini, jadi ia selalu memanfaatkan waktu-waktu ini dengan baik. Dan tampak sekali kalau ia sangat menikmatinya dan kebanggaan terpancar dari wajahnya karena keturunan yang ia miliki.

Hana seringkali memperhatikan hal itu. Ia kenal betul dengan sifat suaminya. Meskipun suaminya tetap mencintainya, dan seringkali memberikan penghiburan dengan mengatakan,”Hana,mengapa engkau menangis dan mengapa engkau tidak mau makan? Mengapa hatimu sedih? Bukankah aku lebih berharga dari pada sepuluh anak laki-laki?”

Yaa...itu memang betul. Tapi ia tetap mendambakan seorang anak. Anak yang lahir dari kandungannya sendiri, anak yang bisa ia asuh dan bisa ia sayangi dengan sepenuh hati dan jiwanya. Anak yang akan menjadi penghiburan baginya di masa tuanya.

Dan itulah yang selalu menjadi pokok doa bagi Hana jika ia pergi ke bait Allah. Di sana ia akan menghabiskan waktunya secara pribadi dengan Tuhan. Ia mengutarakan seluruh kerinduannya dan sungguh-sungguh mencari wajahNya. Ia benar-benar percaya bahwa Tuhan Allah itu sungguh ada dan hidup, dan Ia pasti mendengar semua keluh kesahnya.

Begitulah dari tahun ke tahun, dan begitu juga di tahun ini. Ia hanya berkeluh kesah kepada Tuhan dan tidak kepada siapa-siapa lagi. Ia tahu siapa yang Ia sembah. Ia tahu Allahnya sanggup melakukan segala perkara yang mustahil. Dan di bait Allah itulah tempat ia menumpahkan semua isi hatinya. Begitu asyiknya ia di dalam hadirat Allah, sampai-sampai ia tidak menyadari kehadiran Imam Eli berdiri di dekatnya, sedari tadi ia memperhatikan dirinya.

Imam Eli merasa heran melihat tingkahnya. Ia adalah seorang imam, tapi ia juga cuma seorang manusia. Ia tidak pernah mengerti isi hatinya yang sesungguhnya. Dan ia tidak heran ketika Imam Eli berkata kepadanya seakan-akan ia sedang mabuk oleh anggur, padahal sama sekali bukan. No one will understand her heart. Only God can.

1 Samuel 1 : 14 – 18 Lalu kata Eli kepadanya: "Berapa lama lagi engkau berlaku sebagai orang mabuk? Lepaskanlah dirimu dari pada mabukmu." Tetapi Hana menjawab: "Bukan, tuanku, aku seorang perempuan yang sangat bersusah hati; anggur ataupun minuman yang memabukkan tidak kuminum, melainkan aku mencurahkan isi hatiku di hadapan TUHAN. Janganlah anggap hambamu ini seorang perempuan dursila; sebab karena besarnya cemas dan sakit hati aku berbicara demikian lama." Jawab Eli: "Pergilah dengan selamat, dan Allah Israel akan memberikan kepadamu apa yang engkau minta dari pada-Nya." Sesudah itu berkatalah perempuan itu: "Biarlah hambamu ini mendapat belas kasihan dari padamu." Lalu keluarlah perempuan itu, ia mau makan dan mukanya tidak muram lagi.

Hati Hana sangat bersukacita demi didengarnya perkataan Imam Eli. Baginya Imam Eli adalah wakil Allah di dunia ini untuk menyampaikan kabar baik. Apa yang diucapkannya tentulah bisa dia pegang. Dan tadi Imam Eli mengatakan bahwa Allah akan memberikan apa yang ia minta selama ini. Wooowww..hatinya sangat berbunga-bunga mendengarnya. Ia benar-benar bersukacita. Dan hari itu ia pulang dengan hati yang penuh kedamaian dan kelegaan. Saking senangnya sehingga ia tidak menghiraukan lagi semua perkataan menusuk yang Penina katakan. Ia tetap tersenyum dan berseri-seri, karena beban yang ada di dalam hatinya sudah diangkat oleh Allah.

Elkana memandangnya dengan heran, namun ia ikut bersukacita melihat istri kesayangannya begitu berseri-seri. Ia tampak makin cantik di dalam pandangannya. Dan ia sangat merasakan kalau rasa cintanya semakin mendalam dan tidak bisa digantikan oleh apapun.

Demikianlah hal itu terjadi, dan dalam tahun itu juga ia mengandung dan kemudian melahirkan tepat pada bulannya. Apa yang ia impi-impikan selama ini terjadilah. Imannya membawa dia pada satu hasil yang ia dambakan. Hilang sudah semua rasa sakit dan kecewanya selama ini, digantikan dengan sukacita yang kini ada dalam gendongannya. Seorang bayi mungil yang tampan. Ia memberi nama anak itu Samuel, sebab katanya,'aku telah memintanya dari Tuhan'.

Setiap ia memandang anak itu, ia bisa merasakan semua luka-luka di hatinya sedang diangkat oleh Tuhan. Bukan hanya itu, ia malah bisa mengatakan bahwa Tuhan memberikan hati yang baru kepadanya. Hati yang bisa mengampuni, hati yang bisa mengasihi, hati yang bisa mengerti, hati yang bisa memberi dan hati yang bisa berkorban. Dan semuanya itulah yang bisa memberikan kekuatan kepada Hana untuk mempersembahkan kembali putranya yang ia peroleh dengan iman sebagai buah sulung kepada Tuhan, menyerahkan hidup anak itu bagi pekerjaan Tuhan di masa yang akan datang.

Dan Tuhan benar-benar mengindahkan apa yang ia perbuat. Setelah putranya yang pertama itu, Tuhan memberikan lagi keturunan yang banyak baginya. Yaa...itulah upah bagi orang yang sungguh-sungguh percaya kepadaNya. Sungguh tidak ada yang mustahil bagiNya.

Saudara, apa yang sedang engkau doakan saat ini? Adakah sesuatu yang merisaukanmu? Lewat teladan Hana kita bisa belajar, semua perkara bisa kita hadapi dengan menyampaikannya kepada Tuhan. Tidak ada yang mustahil bagiNya, Ia sanggup dan sangat sanggup. Naikkan seluruh seru doamu dan engkau bisa melihat Dia membukakan segala pintu itu bagimu. Amin.

By : Ps. Sariwati Goenawan

 

 
Designed by vonfio.de